
Begini, saya menderita sakit rematik. Penderitaan yang sudah saya alami selama beberapa tahun. Saya sudah menjadi pasien beberapa dokter ahli. Kalau saya sebut nama mereka, bukan karena bermaksud untuk meragukan kemampuan atau keahlian beliau-beliau itu pada bidangnya. Sekedar ingin menjelaskan bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin dari sisi medis. Dokter-dokter itu antara lain: dr. Cecilia Padang, PhD (ahli rematik di Klinik Rematik Tebet), dr. Bambang Setyohadi, SPd (ahli rematik di RS Pondok Indah), Prof. dr. Karmel L. Tambunan, SpPD (ahli darah di RS PGI Cikini). Dari para dokter itu saya di vonis menderita rematik dan terkait dengan tingkat kekentalan darah (darah terlalu kental). (Pada kesempatan lain saya juga berobat ke dokter syaraf untuk kondisi sakit di pinggang kanan saya, yang saya pikir bisa jadi berkaitan dengan sakit rematik saya).
Sakit yang saya rasakan adalah pada semua persendian kaki. Yang paling sering adalah sendi kaki atas (pinggul), kemudian lutut, dan tungkai (engkel). Apabila rematik ini kambuh maka ngilu luar biasa pada sendi-sendi terebut. Saking sakitnya bahkan kadang-kadang tidak sanggup untuk berjalan, atau bisa berjalan tetapi dengan terseok-seok. Akibatnya harus dibantu dengan obat penghilang rasa sakit. Dan ketergantungan kepada obat ini sudah berada pada tingkat tinggi. Tidak bisa lagi meninggalkan obat.
Di samping rasa sakit pada persendian, kadang-kadang juga muncul benjolan di betis berwarna ungu kemerahan, seperti halnya memar bila terbentur suatu benda keras. Bila disentuh bagian itu, rasa sakitnya pun sama seperti luka memar. Sayangnya sakit rematik ini sulit diukur dengan pemeriksaan secara laboratorium. Tidak bisa jelas terbaca seperti mengukur SGOT, SGPT, Kolesterol, Asam Urat dan sebagainya. Hasil foto rontgen juga tidak terlihat kondisi yang aneh. Kesimpulan akhir yang saya terima dari kedua ahli rematik di atas adalah saya harus mengkonsumsi obat penghilang sakit dan beberapa obat lain secara terus menerus karena sakit ini akan permanent.
Di samping pengobatan medis, sebagai bagian dari ikhtiar saya adalah berobat ke beberapa pengobatan alternatif. Sekedar menyebut saja, saya pernah beberapa kali melakukan terapi tusuk jarum (akupuntur), pijat refleksi, totok darah, bekam, sinse dan lain-lain. Saya tidak berputus asa, tetapi hasilnya memang belum seperti yang saya harapkan.
Suatu hari Pak Kun, yang adalah ketua RT di perumahan saya, yang memang sering melihat cara berjalan saya yang terpincang-pincang, menawari saya untuk membaca buku SEFT milik beliau dan mencoba mempraktekkannya. Saya coba. Tidak ada efek apa-apa. Begitupun ketika Pak Rey, Sekeretaris RT, yang pernah belajar cara terapi SEFT membantu saya, juga tidak begitu terasa ada perubahan. Waktu itu saya pernah mencoba mempraktekkan kepada satu-dua teman kantor. Ada yang merasakan kemajuan, walau tidak seberapa.
Pada hari Minggu, tanggal 1 Februari 2009, di Masjid Jabal al Rahmah, kompleks Perumahan Vila Dago, Pamulang, hadir Bapak Ahmad Faiz Zainudin pada rangkaian kegiatan seminar (ada beberapa tokoh yang diundang) untuk menyambut tahun baru 1430 Hijriyah. Beliau adalah orang yang mendalami terapi EFT (Emotional Freedom Technique) langsung dari sumbernya dan mengembangkannya menjadi terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Pada kesempatan tersebut Pak Faiz mempresentasikan metode pengobatan SEFT ini lengkap dengan pendapat beberapa pakar kesehatan luar negeri melalui rekaman video. Juga diperlihatkan video penyembuhan sekitar 1400 anak-anak sekolah yang telah kecanduan rokok dengan cara terapi masal.
Pada akhir sesi pengunjung seminar dibimbing untuk dapat melakukan terapi SEFT ini secara mandiri. Termasuk saya tentu saja. Sebelum terapi dimulai, peserta diminta untuk mengukur, dengan skala 1-10, kira-kira sedang merasakan sakitnya level berapa (sakit atau perasaan emosional apapun). Begitulah. Selesai acara terapi, saya merasakan ada kemajuan. Berkurang rasa sakit saya. Sahabat, untuk diketahui, walaupun saat itu saya masih mengkonsumsi obat penghilang sakit, tetapi rasa sakit tidak hilang 100%.
Dengan hasil itu saya menjadi lebih antusias. Di rumah saya coba lagi. Ternyata lebih baik lagi. Saya coba pada istri saya. Juga anak-anak saya. Alhamdulillah, berhasil.
Pada hari Selasa, 3 Februari 2009 (2 hari setelah berlatih SEFT), saya mendapat tugas training di Puncak selama 4 hari. Persediaan obat tinggal tersisa untuk 1 hari. Istri saya sudah menawarkan untuk menebus obat 1 paket (resep lanjutan/iter bisa untuk 20 hari). Saya bilang tidak usah. Saya akan coba SEFT ini saja. Namun sekedar untuk jaga-jaga, saya tetap bawa copy resep ke lokasi training.
Alhamdulillah, sejak saat itu hingga hari ini, saya belum pernah lagi minum obat-obatan rematik itu lagi (a/l: celebrex, ometrazone, aspilet/aspirin, dll), yang sebelumnya harus saya minum rutin setiap hari. Bahkan untuk kondisi sangat sakit, harus saya minum sehari 2 kali.
Sahabat, saya mungkin belum sembuh total. Mungkin juga masih ada kemungkinan untuk kambuh lagi. Saya tidak pernah akan tahu. Tetapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah saya merasakan bahwa terapi SEFT ini memberi banyak buat saya dan keluarga saya. Termasuk pada istri saya yang menurut dokter menderita syaraf terjepit (HNP) pada pinggangnya, saya bantu dengan SEFT ini dia merasakan sakitnya berkurang drastis. Sekarang setiap kali saya merasakan sakit di kaki, atau pada bagian tubuh manapun, saya akan terlebih dulu mencoba SEFT ini.