DUKA PAK ABDURAHMAN SI PENJUAL KORAN

Sahabatku...sekali waktu, cobalah kita perhatikan tubuh kita yg terlihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, betapa sempurnanya Allah menciptakan kita. Andai salah satu saja bagian tubuh kita tidak ada, betapa rumitnya hidup yang akan kita hadapi kendati pun kita tetap mampu bertahan hidup tanpa salah satu bagian tubuh kita. Bersyukur kita yang diberi anugerah oleb Allah dengan anggota badan yang lengkap. Bersyukur kita yang diberi Allah dengan rizki lebih. Bersyukur kita kepada Allh yang memberi pekerjaan yang baik. Tapi tidak untuk Pak Abdurahman. Segala keterbatasan telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, akibat dari kanker yang dideritanya beliau harus rela kehilangan hidung. Penghasilannya sebagai seorang penjual koran di pompa bensin di daerah Kasablanka, Jakarta Selatan hanya cukup untuk sekedar makan sehari-hari. Namun demikian, dengan segala keterbatasannya itu tidak menjadikan Pak Abdurahman mempunyai niat untuk menjadi pengemis atau peminta-minta. Tidak.! Baginya bekerja adalah wajib hukumnya. Tak peduli berapapun riski yang didapatkan. Bersyukur karena ia sering mendapatkan uang lebih dari mereka yang membeli koran dan merelakan uang kembalian. Namun begitu menjelang lebaran ini Pak Abdurahman berharap dapat membelikan baju baru dan ketupat lebaran buat keluarganya. Syukur-syukur ada uang lebih untuk ia bisa kembali berobat. Hidungnya yang sumbing dan hanya ditutup dengan plester membuat orang menjadi tidak tega untuk memandangnya. Sahabat..yuk lakukan kabaikan meskipun orang lain tak membalasnya dengan hal serupa. Kita niatkan segala kabaikan hanya untuk menggapai ridho Allah semata. Untuk sahabat yang Allah lebihkan rezekinya, silakan bila ingin membantu bisa transfer melalu rekening milik pengelola Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah No. 035-611 2622 atas nama Eko Supriyanto. Dalam salah satu foto Pak Abdurahman berdampingan dengan Sdr. Arief Fauzi (Benzo), salah seorang aktifis di komunitas Pengajian Al`Quran Learning Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah, Jakarta Selatan. Contact Person: 0816811330 (joko) atau 08990773322 (eko) MULIA KITA DENGAN MEMBERI, ABADIKAN HARTA KITA DENGAN SEDEKAH, TAK AKAN JATUH MISKIN ORANG YANG BERSEDEKAH, DAN TAK AKAN TAMBAH KAYA ORANG YANG MENAHAN HARTANYA RAMADHAN, SAATNYA MENGUMPULKAN BEKAL BUKAN MENAMBAH BEBAN, AYO KITA BORONG SELURUH AMAL SHOLEH DI BULAN MULIA INI Sekecil apapun bantuan Anda sangat berarti buat pak Abdurahman, semoga kerelaan Anda akan meringankan beban penderitaanNya

Sabtu, 22 Agustus 2009

Pesan Penting dari Temanggung (bukan dari Noordin M. Top)


Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1430 Hijriyah. Semoga seluruh rangkaian amal ibadah kita yaitu puasa kita, tarawih kita, bacaan al Qur'an kita, sedekah kita dan bukan hanya itu, tetapi termasuk juga tegur sapa kita, senyum kita, memberi kesempatan orang menyeberang jalan, menyalakan lampu sein saat hendak berhenti, berbelok atau mendahului, dan termasuk apapun juga yang kita niatkan ikhlas lillahi ta'ala, maka akan diperhitungkan sebagai jariyah kita dengan balasan berlipat ganda dari Allah swt, baik di dunia ini maupun kelak di akherat nanti. Amin.

Di awal puasa ini kami ingin mengajak Anda semua berwisata kuliner sejenak. Hanya imajiner. Mari bayangkan sore nanti Anda mendapatkan undangan berbuka puasa dari kedutaan Kuawait. Acara buka puasa dilaksanakan di sebuah restoran terbaik di hotel termewah di Jakarta. Hidangan disiapkan oleh chef utama dengan menu beraneka rupa pilihan. Masakan tradisional Indonesia ada. Masakan ala timur tengah ada. Masakan international lengkap. Pendek kata, apapun makanan terlezat yang pernah terbayang di pikiran Anda, semua ada di sana. Prasmanan. Kita bebas mondar-mandir ambil sana comot sini. Sekenyangnya. Sampai kemlakaren. Begitulah.

Singkat cerita, Anda sudah kembali di rumah. Besok pagi, menjelang sahur, perut memberi aba-aba Anda harus ke belakang segera. Panggilan alam yang tidak bisa ditunda-tunda. Tergopoh-gopoh. Buumm. Ah, lega...
Eit..tunggu dulu, bukan begitu ceritanya. Di-rewind dulu. Saat Anda nongkrong, ternyata ada masalah. Tidak bisa keluar. Perut sakit dan mendesak-desak, tapi tetap tidak bisa keluar. Keringat dingin bercucuran..Bahkan air mata. Sakit luar biasa. Anda pun teriak-teriak minta tolong orang rumah. Akhirnya harus dilarikan ke dokter atau rumah sakit.

Maaf, mungkin cerita itu terlalu ekstrim. Berlebihan. Lebay..
Tapi coba mari kita bayangkan apa yang dialami oleh Slamet. Lebih dari 25 tahun penderitaan yang mungkin lebay buat kita, dia alami selama bertahun-tahun. Kenapa? Karena Slamet tidak punya alat pembuangan. Kanal yang mestinya menggelontorkan kotoran, seperti yang kita sama-sama miliki, tidak dipunyai oleh Slamet. Sebuah penderitaan yang bahkan kita tidak ingin membayangkannya bukan...? Slamet Imtichan, anak pasangan Parwito dan Sriyani dari dusun Lembujati, kecamatan Gemawang, Temanggung harus menanggung semua itu sekian lama. Akan selamanyakah?

Lalu kenapa bisa begitu lama? Bukankah ada rumah sakit? Kenapa tidak dioperasi? Kenapa begini? Kenapa begitu? Pertanyaan yang logis. Tentu dari kaca mata kita.

Kemiskinan yang mengharu biru keluarga Slamet membuat pertanyaan-pertanyaan logis itu tidak bisa terjawab. Sulit untuk bisa dijawab.

Hanya saja, lewat tangan LZT, Slamet mengharapkan Anda semua dapat membantunya memberi jawaban. Kita semua dapat membantunya mencarikan "jalan keluar" yang sebenarnya. Meringankan penderitaan yang telah dia sandang bertahun-tahun.

Momentum bulan Ramadhan ini adalah kesempatan emas untuk kita berlomba-lomba berbuat kebaikan. Bahkan Anda diperbolehkan untuk mencuri start. Kita boleh memberi lebih. Lebih baik sekarang, sesegera mungkin, atau Allah tidak akan memberi kita kesempatan berikutnya.

Untuk keperluan operasi ini, Slamet membutuhkan biaya sekita Rp.7-8 jutaan.

Lumbung Zakat Temanggung, insya Allah siap membantu Anda untuk menyalurkan bantuan untuk Slamet Imtichan.


Silakan transfer zakat, infaq dan sedekah Anda ke rekening LZT:

Rekening ZAKAT
No. 6760.151.899
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094723.7
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini
Rekening INFAQ dan SADAQAH
No. 6760.151.988
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094724.5
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini
Rekening TABUNGAN KURBAN
No. 6760.151.881
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094728.6
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini

Konfirmasi ke Pengurus harian LZT:

RPH Listyarini (Ririen)
Telp: (021) 557.44.560 HP: 0816.1180.754
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=rphririen@gmail.com

Falakiyatun Muniroh (Mun)
Telp: (021) 546.37.16 HP:0815.8469.2641
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=f_muniroh@yahoo.com

Ismawati (Isma)
Telp: (021) 746.33.728 / 746.33.730 HP: 0812.8144.226
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=ismawati.bujoko@gmail.com

Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Sabtu, 08 Agustus 2009

Komunitas Sol Sepatu











Nama yang aneh. Sama seperti aktifitasnya yang juga aneh. Aneh di mata orang-orang kebanyakan.

Adalah Pak Eko, staf admin di kantor saya dan Firdaus, staf outsourcing yang menjadi aktifis utamanya. Beberapa yang lain masih banyak yang belum konsisten. Kadang ikut, kadang tidak. Saya sendiri masih masuk ke dalam golongan yang belum benar-benar konsisten.

Di kantor ada sebuah mushola kecil. Hanya muat dua shaf pendek. Paling banyak 6 laki-laki di depan, dan 7 sampai 8 perempuan di shaf belakang. Pak Eko dan Firdaus selalu sudah ada di mushola sebelum waktu sholat. Kemudian satu dua susul menyusul. Karena kami saling menunggu bila tahu masih ada yang sedang mengambil wudhu.

Paling tidak 3 kali waktu sholat kami usahakan berjamaah di awal waktu, yaitu dhuhur, asar, dan maghrib. Menjelang waktu dhuhur tiba, sementara orang-orang sedang sibuk untuk keluar makan siang, Pak Eko dan Firdaus sudah menunggu di musholla.

Komunitas yang aneh. Komunitas Solat Selalu Tepat Waktu atau Sol Sepatu, menjadi aneh karena orang-orang mendahulukan makan siang, mereka mendahulukan solat tepat waktu.

Senin, 27 Juli 2009

Mencari Jasmin Jutting


Jasmin Jutting adalah Sri Winarsih, anak pasangan Sumidah dan Dahuri dari sebuah desa terpencil di lereng gunung Sumbing bernama desa Kebon Agung, kecamatan Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.

Jasmin Jütting is Sri Winarsih. She is the daughter of Sumidah and Dahuri. The couple lived in Kebon Agung village, located at the Sumbing Hill, Temanggung (Middle Java, Indonesia).

Jasmin Jutting ist Sri Winarsih .Sie ist die Tocher von Ehepaar Sumidah und Dahuri von einem kleinen Dorf ,das auf niedrigen ebene von dem Berg von Sumbing,Dorfer Kebon Agung,Bezirk Tembarak,Temanggung,mittel von Java,Indonesia

Lama sekali keluarga kami mencari jejak Jasmin Jutting, sampai suatu ketika, sekitar tahun tahun 1999, Jasmin Jutting muncul di Kebon Agung. Hanya beberapa saat untuk kemudian menghilang lagi. Karena kemiskinan dan kebodohan keluarga saya di sana maka tidak terpikir untuk menjalin komunikasi selanjutnya.

Since a long time ago, my family has been looking for Jasmin Jütting. Until one day in year 1999, Jasmin Jütting visited Kebon Agung for a short period of time and disappeared afterward. Because of poverty and foolishness, my family did not even think of weaving their relationship or involving in any further communication with Jasmin.

Seit langer Zeit hatten unsere Familie nach Jasmin Juetting ‘s Spuere,Befinden gesucht.Einmal im Jahre 1999 tauchtet jusmin Juetting in sehr kurze Zeit in Dorf Kebon Agung auf und schnell verschwindet .Da wegen Armut und Dummheit von Familie hatten die Adresse, telefon Nummer von Jasmin juetting fuer zukuenftige Verbindungen nicht gefragt.

Cerita selengkapnya tentang Jasmin Jutting adalah begini:
The following is the detailed story of Jasmin Jütting:
Die Geschichte von Jasmin Juetting ist folgendes:

Bapak saya namanya Sudarno. Saat ini usianya 67 tahun. Kakek saya dari Bapak namanya Suyitno, yang setelah menikah berganti nama menjadi Tjipto Sumarto. Beliau telah meninggal ketika Bapak belum dewasa.

My father’s name is Sudarno. He is currently 67 years old. The name of grandfather, from my father’s side, is Suyitno, who then changed his name to Tjipto Sumarto after he got married. He passed away before my father stepped into adulthood.

Mein vater hiess Sudarmo. Er ist 67 Jahre alt. Mein Grossvater hiess Sujitno, nach geheiratet hat seinen Namen geaendert ,bekommen Tjipto Sumarto.Er war schon gestorben wenn mein Vater noch klein kind war.

Suyitno, kakek saya, punya 2 orang adik yaitu Sumidah (70 tahun), perempuan, dan Sutrisno (68 tahun), laki-laki. Sumidah pernah 3 kali menikah dan memiliki 7 orang anak. Sutrisno pindah ke Jambi, Sumatera bersama anak istrinya dan saat ini tidak tahu kabar beritanya.

Suyitno, my grandfather, has a sister, Sumidah, and a brother, Sutrisno. His sister, Sumidah, has been married for three times and she has seven children from those marriages. His brother, Sutrisno, moved to Jambi, Sumatra, with his wive and children, and currently his whereabouts is unkown.

Suyitno,mein Grossvater hatten eine Schwester,hiess Sumidah und einen Bruder,hiess Sutrisno.
Sumidah hatten shon dreimal geheiratet und hatten 7 Kinder.
Der Sumitro zog mit seine Familie nach Jambi,Sumatra um. Wo bis jetz noch keine Nachricht von ihn.

Sudarwati (50 tahun), Siti Watiah (48 tahun), dan Katon Topo (46 tahun) adalah anak dari suami pertama Sumidah. Utami ( 40 tahun) dan Wahono (37 tahun) adalah anak dari suami kedua. Sri Winarsih (34 tahun) dan Lulik Widyabakti (32 tahun) adalah anak dari suami terakhir. Suami terakhir Sumidah bernama Dahuri.

From Sumidah first marriage, she got three children (Sudarwati, Siti Watiah and Katon), two children from her second marriage (Utami and Wahono), and two children from her last marriage (Sri Winarsih and Lulik Widyabakti). The name of Sumidah’s last husband is Dahuri.

Sudarwati,Siti Watiah und Katon waren die Kinder von erste ihre Eheman
von Sumidah. Utami und Wahono waren die Kinder von zweiten Eheman von Sumidah. Sri Winarsih und Lulik Widyabakti waren die Kinder von dritten,letzen Eheman von Sumidah, genante Dahuri.

Saat Sri Winarsih berumur 3,5 tahun, Sumidah menyerahkan kepada seseorang untuk diadopsi. Alasannya adalah kesulitan ekonomi yang teramat sangat. Miskin yang mendalam. Menghidupi 5 orang anak saja bukan pekerjaan mudah. Ditambah Sri Winarsih dan adiknya, maka lengkap sudah kemiskinan yang mengharu biru.

When Sri Winarsih was 3,5 years old, Sumidah gave her away for adoption. Great poverty was the main reason for her in making that difficult decision. Moreover, maintaining a decent living for her five children is not an easy task. Hence, having Sri Winarsih and her little sister has worsened the inevitable curse, great poverty.

Sumidah hat Sri Warnasih, als sie 3,5 Jahre alt war zu Jemanden gegeben um sie zu adoptieren lassen. Wegen der ganz tiefen Armut und die wirtschaftliche Situation ,war die Familie nicht in der Lage die 5 Kindern plus Sri Winarsih und noch ihre Schwester zu ernaehren und erzogen.Das war die katastrophal im Leben, welt utergang begonnen.

Belakangan diketahui bahwa ternyata Winarsih dibawa ke Jerman dan diadopsi oleh warga negara Jerman. Namanya pun diganti menjadi Jasmin Jutting. Sejak saat itu hubungan pun terputus.

Recently, we found out that Sri Winarsih was taken to Germany and adopted by the German citizen. Her name was changed from Sri Winarsih to Jasmin Jütting. Since then, there is no information about her whereabouts.

Nach der letzten Information Sri Winarsih war adoptiert werden bei einer deutchen Familien und den Namen Jasmin Jutting ernant. Seit der Zeit ist kommunikation gebrochen.

Jadi Jasmin Jutting adalah adik sepupu Bapak saya.

Thus, Jasmin Jütting is my father’s cousin.

So Jasmin Jutting ist nicht anders als der kusine von mein Vater.

Kami sangat mengharap bantuan semua pihak untuk menemukan Jasmin Jutting. Informasi berantai melalui facebook mudah-mudahan akhirnya akan sampai kepada Jasmin. Ibunya dan adiknya sangat merindukannya. Di penghujung usia Ibu Sumidah, beliau sangat ingin bertemu kembali dengan Sri Winarsih atau Jasmin Jutting atau siapapun namanya kini.

We really need everyone’s helping to find Jasmin Jütting. I hope that this information, which then will be spread through facebok or any other social networking device, will be able to reach Jasmin. Her mother and sister are missing her a lot. Sumidah deeply wants to meet Sri Winarsih or Jasmin Jütting.

Wir bitten sehr um die Hilfe von irgend Jemand ,die zufaellige weisse Jasmin kennt, uns ueber E- mail adresse, zu infomieren oder durch Facebook.
Durch ketten und hoch technologieshe Info. sind unsere Hoffnungen gelegt.
Die alte Mutter und alte Schwester von Jasmin, haben die Sehnsucht sie zu sehen.

Yang berkenan memberi informasi, mohon hubungi saya:

For those who have information regarding Jasmin Jütting, please do not hesitate to contact me:


Joko Suseno
Vila Dago Blok K No.69 Pamulang, Tangerang, Banten, Indonesia
HP: +62816811330
Rumah: +622174633728
e-mail: jokosuseno34@yahoo.com atau pakneestu@gmail.com atau joko_suseno@bca.co.id

blog: http://jurnaljokosuseno.blogspot.com/

Selasa, 21 Juli 2009

Mencari Miyanti


Perjalanan ke dusun Senden, desa Jambon, kecamatan Gemawang, Temanggung adalah perjalanan yang mengasyikkan. Iya, ada tugas dari LZT untuk menemukan Miyanti. Seorang ketua RW di dusun itu, Maryono, mengirim proposal bantuan dana pendidikan ke sekretariat LZT di perumahan Taman Royal, Tangerang.

Miyanti Rahayu, 15 tahun, anak pertama dari 3 bersaudara, anak pasangan Nariyono dan Irahayu, telah lulus dari SMP Muhamadiyah 5 Kandangan. Dengan NEM 33 koma sekian, dari 4 mata pelajaran, Miyanti memperoleh nilai 10 untuk pelajaran matematika. Mungkin bukan nilai yang fantastis untuk ukuran anak perkotaan, tetapi untuk anak dari pelosok pedesaan dengan perekonomian keluarga yang sangat jauh dari berkecukupan, nilai itu tentu saja menjadi istimewa.

Dengan berbekal SMS dari Ketua LZT, akhirnya rumah orang tua Miyanti berhasil kami temukan. Sungguh dari rumah yang sangat sederhana itu, lahir seorang anak berotak cerdas tentulah sangat membanggakan kedua orang tuanya. Namun menjadi menyedihkan dan memprihatinkan ketika untuk mendapatkan biaya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi ternyata mengalami banyak kendala. Bahkan untuk sekedar mengambil ijazah kelulusan dari SMP Muhammadiyah 5 sebesar Rp.200.000,- pun belum mampu.

Berbekal kunjungan itu dan dari hasil rapat pengurus secara on line, LZT setuju untuk membantu biaya pendaftaran sekolah di SMK Temanggung (STM Pertanian Maron, Temanggung) sebesar Rp.2.500.000,- Untuk biaya-biaya berikutnya (transportasi, SPP, dll) orang tua Miyanti berjanji untuk mengusahakan sendiri semaksimal mungkin. Dan akhirnya saat ini Miyanti Rahayu telah kembali sekolah.

Sekolah gratis? Tidak juga ya…
Sekolah, harus bisa. Insya Allah, yang ini mudah-mudahan benar.

Rabu, 17 Juni 2009

Pengakuan Gudam Garang


Namaku Gudam Garang. Panggil saja Gudam. Umurku 50 tahun lebih. Bisnisku membunuh. Ya, membunuh. Membunuh orang. Aku tidak sendirian. Jaringanku sangat luas. Istriku, Milda Soemparna, adalah partner utamaku. Mertuaku, Emha Soemparna, cukup lama mendidiknya untuk menguasai bisnis ini. Bisnis membunuh.

Di bisnis ini aku punya banyak pesaing yang sekaligus menjadi kolega. Sebut saja Djuram Koclat, Boentel Briu, dan Djoe Samsi. Mereka ini orang-orang lama yang sudah sangat menguasai medan. Bersama-sama kami membentuk kartel yang bisa menentukan bisnis ini. Ya, kartel. Karena dalam bisnis ini butuh banyak bahan baku untuk membuat racun yang disebut korok dari tanaman bernama mbetakau. Kamilah yang menentukan harga beli, kami juga yang menentukan mutu daun mbetakau ini. Semua kami yang menentukan. Petani, biarlah mereka menderita dengan mimpi dan harapan agar harga daun mbetakau bisa setinggi langit.

Meski bisnisku membunuh, namun tidak seorangpun pernah menuntutku. Semua birokrat sudah aku kuasai. Bupati, Gubernur, Menteri. Semua. Mereka semua teman-temanku. Mereka tidak akan pernah menggangguku. Bahkan presiden pun tidak akan. Tidak akan pernah. Di mata mereka aku adalah dermawan. Aku adalah pahlawan. Mau bikin even apa saja mereka akan mencariku. Liga sepak bola, basket, tinju atau apa sajalah. Semua kegiatan olah raga bisa aku sponsori. Orang selalu berfikir bahwa aku sangat berjasa dalam menyehatkan bangsa ini. Juga konser-konser besar. Pasti ada campur tanganku di situ. Paling tidak pasti ada kolegaku.

Tentang bisnisku, sesungguhnya ini memang keahlian turun temurun. Orangtuaku mengajariku meracik dan mengemas sedemikian rupa sehingga orang-orang akan menyukai racun yang aku buat itu. Tak lupa aku mesti pasang iklan sangat gencar. Besar-besaran. Bahkan untuk biaya iklan ini aku rela menghabiskan uang milyaran rupiah. Tidak masalah. Karena keuntungan sudah menunggu di depan mata. Tidak dalam tempo lama keuntungan yang akan aku raih bisa berpuluh-puluh kali lipat. Bahkan ribuan kali lipat. Dan orang-orang tidak pernah merasa bahwa secara pelan-pelan aku telah membunuh ayah mereka, saudara mereka, anak-anak mereka. Mereka tidak akan pernah menyadari, karena yang mereka tahu keluarga yang sakit dan kemudian meninggal itu hanya karena sakit jantung, paru-paru, atau kanker. Mereka tidak pernah tahu akulah yang telah meracuni mereka.

Bahkan dari bisnis membunuh orang pun aku bisa menjadi orang kaya. Saat ini aku dan Djuram masih menjadi orang terkaya di negeri ini. Sementara di mata orang-orang, aku adalah pahlawan yang sangat berjasa memakmurkan negeri ini. Sesungguhnyalah aku adalah pembunuh berdarah dingin.

Namaku Gudam. Ya, aku Gudam Garang. Aku si pembunuh itu.

Namaku Don

Aku lahir sekitar 45 tahun lalu di sebuah desa di Tembarak. Tidak perlu aku sebutkan nama desaku. Tidak terlalu penting. Sebut saja aku Don, itu lebih penting Lengkapnya Sudono bin Juanto.

Bapakku lurah. Kakekku juga. Walaupun orang-orang di kota yang suka sok membuat aturan maunya menyebut Bapakku sebagai kepala desa, tetapi semua warga desa menyebut Bapakku dengan Pak Lurah. Jadi Bapakku adalah Pak Lurah untuk warganya. Persetan dengan peraturan orang-orang kota itu.

Namaku Don. Panggil saja aku begitu.
Sebenarnya namaku panjang, Sudhono Wisnu Murti Bayu Kartiko Aji bin Juanto. Tidak penting. Setidaknya buatku. Dari kecil orang tua dan teman-temanku memanggilku Dhono atau Dhon. Aku lebih suka menulisnya Don. Teman kecilku banyak. Dari dulu aku selalu menjadi pemimpin. Bahkan anak-anak yang lebih tua pun selalu menurut, juga yang sebaya, apalagi yang lebih muda. Pendeknya aku mau pergi kemana atau mau main apa, mereka semua pasti mengikuti. Makanya beberapa orangtua menganggapku sebagai pemimpin anak nakal. Ah, aku tidak peduli.

Namaku Don. Aku si bintang kelas.
Dari SD, SMP, hingga SMA aku selalu menjadi bintang kelas. Hanya ketika di SMA aku sedikit kesulitan. Aku punya masalah dengan rasa percaya diriku. Aku sangat minder.
Aku sekolah di SMA paling faforit di Temanggung, dan ternyata aku mati gaya. Pada awal sekolah, aku sering menjadi bahan tertawaan teman-teman sekolahku karena tidak bisa menyesuaikan dengan gaya dan kehidupan kota. Aku menjadi terganggu. Dan ini sangat membebaniku.

Namaku Don. Aku jatuh cinta.
Di tahun terakhir sekolahku di SMA, ada anak kelas satu yang cantik sekali. Namanya Diah. Ternyata dia anak bupati. Aduh, kenapa aku jatuh cinta. Walau Bapakku orang yang paling terpandang di desaku, tapi anak bupati... ah, bermimpi pun tidak berani. Aku tidak pernah berani menyapanya, hanya curi-curi pandang setiap ada kesempatan. Aku hanya bisa jatuh cinta dari jauh. Ya, hanya dari jauh. Dan aku frustasi.

Namaku Don. Aku pergi merantau.
Setamat SMA aku ke Jakarta. Aku ikut kakak sepupu. Aku bisa bekerja dengan ijazah SMA-ku. Yah kerja apa sajalah, di bagian administrasi. Selang beberapa waktu aku bisa kuliah. Aku memang sangat ingin bisa kulaih. Lalu aku mulai tinggal sendiri. Di kantor ini aku jatuh cinta dengan Wulan, orang baru. Lalu aku menikah. Aku pindah kerja.

Namaku Don. Si kutu loncat.
Pindah dari satu pekerjaan yang satu ke pekerjaan lain ternyata membuatku merasa semakin tertantang. Aku menjadi semakin percaya diri. Bahkan aku berhasil menyelesaikan masterku. Dan kini anakku sudah tiga, itu yang dari Wulan. Sekarang aku sudah kandidat doktor.

Namaku Don. Aku di puncak karier.
Sekarang aku pejabat tinggi di sebuah bank terkemuka. Tidak penting nama banknya. Wauw, aku semakin percaya diri. Aku juga semakin leluasa bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Kemanapun aku mau. Semua dengan biaya kantor. Sangat gampang buatku untuk mengatur perjalanan dinas kemanapun, kapanpun. Ah, alasan bisa dicari. Sekretarisku akan mengatur semua itu. Begini mudahnya ternyata.

Namaku Don. Aku si playboy.
Pacarku banyak. Yang masih single maupun istri orang. Siapa peduli. Istri simpanan juga ada beberapa. Mungkin anakku juga banyak. Namun istri sahku tetap Wulan. Hanya Wulan. Tapi aku pintar mengelola itu semua. Soal ini aku jagonya. Tidak akan ada satupun dari mereka akan menelponku atau mendatangi rumahku yang di Pondok Indah pada hari sabtu atau minggu. Tidak akan pernah, dalam kondisi apapun. Terlebih pacar-pacarku yang tinggalnya di Medan, Denpasar, Menado, Singapore, atau Malaysia. Ini pekerjaan gampang. Sangat gampang.

Namaku Don. Calon Bupati Temanggung.
Aku butuh pengakuan baru. Aku akan mencalonkan diri menjadi bupati Temanggung. Dan untuk itu semua, sudah kuatur dan aku persiapkan dengan sangat rapi. Seorang teman, perwira menengah di Mabes Polri sudah bersedia menjadi wakilku. Aku juga sangat dekat dengan beberapa pengurus partai dari pusat dampai daerah. Orang-orang di Kejaksaan Agung, Mabes TNI, Mabes Polri, sudah aku dekati. Juga beberapa pejabat penting di Temanggung. Semua aman. Beberapa LSM juga sudah sangat tergantung dengan bantuan dana dariku. Aku sudah siapkan uang lima milyar. Sudah aku pelajari juga pengalaman bupati-bupati sebelumnya. Aku tidak mau tergelincir seperti Totok. Jadi semua pihak harus dibelakangku. Kejaksaan, Polisi, DPRD, LSM atau siapapun mesti tunduk dengan kemauanku. Dan uang, buatku, berapapun tidak menjadi masalah.

Namaku Don. Sudono bin Juanto. Sebut saja aku Don Juan.

Cik Lan dan Yu Tinuk

Pagi itu Cik Lan terlihat gelisah. Sebentar-sebentar pandangannya dilemparkan jauh ke sudut jalan. Sesekali dia keluar, di trotoar dia pandangi lama arah alun-alun, lalu berbalik ke arah pasar. Sepertinya belum ditemukan yang dia cari. Sedikit bergeser dia pandangi arah terminal lama. Nihil. Ke arah Sayangan, nihil juga. Dia masuk lagi. Begitu berulang-ulang.
Koh Tiong, suaminya, bukan tidak tahu dengan tingkah laku istrinya. Dia pura-pura asyik baca koran. "Papi, memang Papi ndak liak Yu Tinuk. Apa dia ndak jualan lagi ya. Piye ini....?"
Suaminya bergeming. Dia maklum. Apapun jawabannya, pasti istrinya akan bicara lebih panjang lagi.
"Masak sih Papi da situ dari tadi kok isa ndak liak? Papi ini memang kebangeten tenan kok. Mami sudah tiga hari ndak ngerasakke nasi jagunge Yu Tinuk. Sudah kangen sama pecel, peyek, sama tempe baceme Yu Tinuk...."
"Mi, mBak Yah kan sudah masak dari subuh tadi to. Lengkap. Opor ayam senengane Mami juga ada. Wis, Mami sarapan wae sana...."
Cik Lan cemberut, tapi akhirnya dia turut juga kata-kata suaminya.
Sementara itu Tinuk baru selesai menyiapkan dagangannya. Tiga hari kemarin memang dia tidak berjualan. Mas Jono, begitu dia memanggil suaminya, sakit. Begitu Jono sudah terlihat agak sembuh, Tinuk memberanikan diri jualan lagi.
"nDoro Yuk, peceeeeeeeeeel". Teriakan Tinuk mengagetkan Cik Lan yang baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Buru-buru dia lari ke depan.
"Eeeeeeeeeee, kemana wae to kok ndak ketok-ketok. Tiga hari aku nyari situ. Sampai mumet aku, saking ndak isa nahan kepingin nasi jagung. Wis ayo bawa ke dalam wae. Itu Papine juga wis kangen tapi ethok-ethok ndak pengin."
Tinuk bergegas masuk dengan bawaannya. Di ruang tengah yang cukup luas terdapat meja ping pong di tengah ruangan. Koh Tiong sedang asyik membaca koran di salah satu sisi meja.
"Eee, nDoro Yuk lanang, nuwun sewu ya. Ini saya sudah jualan lagi. Mau pecelnya ndak?" seru Tinuk.
"Kemana saja Yu, kok ndak ketok-ketok. Itu Mamine Sian Lie wis koyo orang linglung wae nyari situ."
"Iya, saya nggak jualan tiga hari. Bapakne mriang. Masuk angin. Enggak tegel saya ninggal sendiri. Ya ini kesiangan karena harus ngopeni Bapakne dulu."
“Ooooo, sama. Si Robby, adike Sian Lie wingi juga begitu. Sama Mamine dah dikasih obat sama vitamin. Katane dokter kena radang tenggorokan. Infeksi saluran pernapasan. nDak masuk sekolah dua hari. Memang sekarang ini lagi musime kok Yu. Wis ndak pa pa. Wis dibawa ke dokter belum?”
“Lha wong diajak ke Puskesmas Bapakne itu nggak mau kok. Minta dikerok. Yo wis, tak kerok wae. Ini pecele seperti biasane to..??”
“Iya Yu... Aku ki juga ndak habis pikir, lha wong Mamine itu njagani anak-anak ya tenanan lho. Pulang pergi sekolah yo sama Slamet. Mestine ya ndak kena debu. Lha ndek sekolahan itu lingkungane bersih. Kantine bersih. Kok ya isa sakit. Sambele jangan akeh-akeh Yu... Gek rada ndak enak perute..”
“Nek Bapakne itu ketoke kekeselen kok. Lha piye, sekarang apa-apa mahal. Mau masukke sing mbarep ke SMP biayane banyak banget. Ya terpaksa Bapakne nariknya lembur saben hari. Belum biaya adik-adike itu. Saya sudah ngrewangi begini ya mangsih kurang. Untunge anake saya itu bisa ngerti orang tua. Nggak macem-macem. Sekolahe ya rajin. Malah kemarin dia bilang gurune lagi ngajukan bea siswa. Wah jan seneng banget saya... Peyeke tinggal ini lho ya. Meh disambeli nggak..? ”
“nDak usah yu. Itu Mamine sing seneng bacem.”
“Iya Yu. Nasi jagunge jangan akeh-akeh. Ndak usah pakai sambel sik. Apa dikasih sedikit wae. Lagi musim sakit je. Lha itu Mamine Benny bar ngebel katane si Benny juga sakit. Ngerti Benny to Yu..? Itu lho sing da rumahe ada parabolane gede itu lho.. Cepake Saudara itu lho.. Wis sambele segitu wae. Tempe mbek tahu baceme dimasukke rantang sini wae. Nanti mulih sekolah Sian Lie rak mesti seneng banget. Bungkuske nasi jagung komplit satu Yu. Ben nanti dikasihke Slamet. Mbak Yah..., ini nasi jagung nanti tolong dikasihke Slamet ya.. Wis semua Yu. Dietung sik. Ini uange..”
Sepeninggalan Tinuk, Cik Lan segera membongkar nasi Jagung.
“Lho Mami kan habis sarapan. Apa ya ndak kewaregen? Lha wong Papi wae yang belum sarapan malah ndak disiapke..”
“Lha ini meh nyiapke gawe Papi to. Sisan tak temeni. Lha wong sudah kangen tenan sama nasi jagunge je Pi... Ndak pa pa kan yah segini sarapane sudah dua kali..”
“Si Robby mbesuk bisa masuk sekolah to? Nek ndak masuk apa ya ndak ketinggalan pelajaran akeh..?”
“Anakmu sing satu itu memang hebat kok. Ben dia ndak masuk tetap ajar terus. Mbaca terus saben hari.”
“bersyukur ya Mi kita diberi rejeki lebih. Orang-orang seperti Yu Tinuk itu masih akeh lho Mi.”
Cik Lan hanya mengangguk dan tersenyum. Hari itu dia mendapati dua hal, nasi jagungnya terpenuhi dan pelajaran tentang rasa syukur. Yu Tinuk..Yu Tinuk...batinnya sambil geleng-geleng kepala. Entah apa lagi yang ada dibenaknya.

Suradal telah mati

(Berdasar kisah nyata dengan nama tokoh dan tempat kejadian disamarkan)

Pagi-pagi buta seisi kampung gempar. “Suradal mati.” “Suradar modar”. “Suradal dut”. “Suradal moik” “Suradal mampus...” Berita matinya Suradal begitu cepat menyebar bahkan lebih cepat dari hembusan angin. Dari cara mereka menyampaikan berita ini, terlihat sekali bahwa ada kesan senang pada wajah mereka.

Suradal. Ya, nama ini sudah lama sekali menjadi pembicaraan orang sekampung. Bahkan hampir sekecamatan. Siapakah Suradal?

Suradal adalah preman. Walaupun tidak ada yang berani menyebutnya demikian, tetapi sesungguhnya Suradal adalah preman. Dia mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak sah. Di luar itu tidak ada yang tahu berapa dia mempunyai selingkuhan dan anak-anak haramnya. Semua bagaikan telah diatur rapi oleh Suradal walaupun sebenarnya banyak orang yang sudah tahu. Bahkan semua orang sudah tahu.

Sepertinya kejadian kematian Suradal pagi itu membuat orang bisa bebas lepas membuka semua aib Suradal. Termasuk cerita Suradal di kampung itu. Bahwa Suradal punya seorang anak buah, Tukijo, yang seolah-olah menikah resmi dengan seorang gadis kampung, Onarwati. Onar, begitu dia dipanggil, tinggal serumah dengan orangtuanya dan suami pura-puranya ini. Dan pada malam-malam tertentu Suradal akan menyambangi istri anak buahnya ini untuk berbagi jatah. Begitu juga cerita serupa di beberapa kampung lain.

Jangan tanya soal uang. Suradal punya banyak uang. Dengan sekian banyak anak buahnya, dia menguasai pasar kecamatan, tukang-tukang ojek, sopir angkutan kota, dan pedagang pasar kecamatan. Semua sudah diatur rapi. Bahkan Suradal punya banyak koneksi dengan pejabat pemerintahan maupun keamanan. Jadi jangan berpikir untuk lapor, karena justru akan mendapat masalah baru.

Kematian Suradal adalah berkah buat banyak orang. Kematian Suradal telah mengingatkan orang-orang bahwa selama ini mereka telah menutupi aib di depan hidung mereka sendiri. Aib mereka sendiri.

Kamis, 11 Juni 2009

Estu Kresnha dan Prita Mulyasari

Estu Kresnha anakku.
Seorang Ibu muda yang tengah dirundung nestapa itu, Prita namanya nak. Iya, Ibu Prita. Karena dirawat di Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang dan karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, Prita curhat ke teman-teman lewat surat elektronik (e-mail). Dia cerita tentang buruknya pelayanan rumah sakit ini. Dia cerita tentang ketidakprofesionalan dokter yang merawatnya. Tentang sulitnya mendapatkan informasi yang akurat tentang penyakitnya. Bahkan untuk mendapatkan hasil laboratorium pun tidak dia dapatkan. Begitu cerita yang berkembang nak.
Lalu curahan hati Prita kepada teman-temannya itu mengalir deras, diteruskan dari satu alamat e-mail ke alamat yang lain, dari satu milis ke milis yang lain. Terus bergulir. Terus mengalir. Sampai akhirnya terbaca juga oleh pihak manajemen rumah sakit.
Pihak rumah sakit tidak terima, lalu lapor ke polisi. Lalu perkara pun dimulai. Dan di sini penderitaan Prita berawal. Prita, ibu muda ini, ibu dari 2 orang anak balita, bahkan kabarnya anak yang paling kecil masih menyusu, dijebloskan ke dalam penjara.
Estu Kresnha anakku,
Pasti ada sesuatu yang salah di sini. Coba Engkau cari tahu, apa yang salah nak. Apakah salah bila Prita, yang merasa kesulitan mencari informasi dari sumbernya langsung, berbagi kepada teman-temannya? Apakah salah bila pihak rumah sakit yang merasa difitnah dan dijelek-jelekkan melapor ke polisi? Salahkah juga bila polisi memproses laporan itu? Atau pihak kejaksaan, yang berinisiatif menambahkan pasal baru dan kemudian memenjarakan Prita? Coba nak renungkan.
Nak, Estu Kresnha,
Setiap manusia akan menghadapi cobaan. Termasuk kita nak. Ada yang berat, ada yang ringan. Tinggal bagaimana kita akan menyikapi cobaan itu.
Tetaplah tawaqal ya nak. Selalu berharap pada pertolongan Allah. Laa haula wala quwata ila billah.

Prita Mulyasari, RS OMNI, dan Estu Kresnha


Estu Kresnha anakku.
Seorang Ibu muda yang tengah dirundung nestapa itu, Prita namanya nak. Iya, Ibu Prita. Karena dirawat di Rumah Sakit Omni Internasional, Tangerang dan karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, Prita curhat ke teman-teman lewat surat elektronik (e-mail). Dia cerita tentang buruknya pelayanan rumah sakit ini. Dia cerita tentang ketidakprofesionalan dokter yang merawatnya. Tentang sulitnya mendapatkan informasi yang akurat tentang penyakitnya. Bahkan untuk mendapatkan hasil laboratorium pun tidak dia dapatkan. Begitu cerita yang berkembang nak.
Lalu curahan hati Prita kepada teman-temannya itu mengalir deras, diteruskan dari satu alamat e-mail ke alamat yang lain, dari satu milis ke milis yang lain. Terus bergulir. Terus mengalir. Sampai akhirnya terbaca juga oleh pihak manajemen rumah sakit.
Pihak rumah sakit tidak terima, lalu lapor ke polisi. Lalu perkara pun dimulai. Dan di sini penderitaan Prita berawal. Prita, ibu muda ini, ibu dari 2 orang anak balita, bahkan kabarnya anak yang paling kecil masih menyusu, dijebloskan ke dalam penjara.
Estu Kresnha anakku,
Pasti ada sesuatu yang salah di sini. Coba Engkau cari tahu, apa yang salah nak. Apakah salah bila Prita, yang merasa kesulitan mencari informasi dari sumbernya langsung, berbagi kepada teman-temannya? Apakah salah bila pihak rumah sakit yang merasa difitnah dan dijelek-jelekkan melapor ke polisi? Salahkah juga bila polisi memproses laporan itu? Atau pihak kejaksaan, yang berinisiatif menambahkan pasal baru dan kemudian memenjarakan Prita? Coba nak renungkan.
Nak, Estu Kresnha,
Setiap manusia akan menghadapi cobaan. Termasuk kita nak. Ada yang berat, ada yang ringan. Tinggal bagaimana kita akan menyikapi cobaan itu. Mari kita doakan masalah Ibu Prita lekas selesai.
Tetaplah tawaqal ya nak. Selalu berharap pada pertolongan Allah. Laa haula wala quwata ila billah.

Manohara dan Peri Kecil







Dinda, peri kecilku.
Nak, ngikutin berita tentang Manohara kan? Kasihan ya nak. Kita mesti bersimpati untuk penderitaan yang dia alami. Di usia yang masih semuda itu dia mesti didera dengan kesulitan dan penderitaan yang menyakitkan. Kita doakan dia yuk, agar masalah yang dia hadapi bisa segera terselesaikan.
Dinda, anakku.
Manohara pasti punya impian. Semua orang boleh punya impian. Begitupun engkau anakku, tentu boleh juga punya impian. Apakah impianmu ingin seperti Manohara? Ingin mendapatkan seorang pangeran rupawan nan hartawan..? Tentu boleh saja nak. Namun ingat satu hal nak, bahwa segala sesuatu yang duniawi tidak menjamin engkau akan berbahagia kelak. Sama halnya seperti yang saat ini dialami oleh Manohara, ternyata bersuamikan seorang pangeran kaya tidak menghadirkan kebahagiaan.
Dinda, putriku.
Bila kelak Allah jumpakan engkau dengan pujaan hatimu, mungkin dia tidak ganteng-ganteng amat, atau tidak kaya-kaya amat, tidak usah berkecil hati nak. Yang terpenting adalah akhlaknya. Yang utama adalah budi pekertinya. Dia sayang sama anak istri, juga hormat sama orang tua. Kalau engkau dapat satu saja yang seperti itu, maka cukup itu saja buatmu. Jadikan dia pangeran di hatimu. Maka biarlah papa mamamu akan selalu tenang meski pangeranmu kelak akan membawamu ke belahan dunia manapun. Tentu, hanya untuk kebahagiaanmu. Insya Allah.

Senin, 01 Juni 2009

Pengkhianatan Dewi Sekar Alun







Kethoprak Temanggungan

Oleh: Joko Suseno

Bayangan hitam itu berkelebat sangat cepat. Ilmu meringankan tubuhnya sangat hebat. Joko Sindoro terkesiap. Berdiri bulu kuduknya. Bukan karena takut, namun karena dia begitu mengenal sosok bayangan itu. Ya, dia adalah Aryo Sumbing, adik seperguruannya. Yang lebih membuat dia terkejut adalah dari mana arah bayangan itu berasal. Joko Sindoro yakin benar bayangan itu berkelebat dari arah kamar Dewi Sekar Alun, kekasihnya.

Di padepokan Waringin Jajar ini Joko Sindoro memang murid tertua Resi Duparada. Hampir semua ilmu sang resi sudah dikuasainya. Kedekatan dengan sang resi juga yang memudahkan dia mendekati anak semata wayangnya. Dia adalah Dewi Sekar Alun yang menjadi kembang sepadepokan. Bahkan kembang sekadipaten. Beruntunglah Joko Sindoro yang telah memenangkan hati Sekar Alun.

Aryo Sumbing adalah murid baru. Dia putra seorang pejabat tinggi di kerajaan. Senopati Girinata. Dia adalah kakak seperguruan Resi Duparada. Sejatinya sang resi tahu tentang ketinggian ilmu yang telah dimiliki Aryo Sumbing. Semula dia ingin menolak. Namun karena pesan Girinata agar bisa lebih mendekatkan anaknya dengan masyarakat kadipaten, tak kuasa juga untuk menolaknya. Sang resi tahu bahwa kakak seperguruannya sedang menyiapkan putranya untuk menjadi adipati.

Malam itu Joko Sindoro tak bisa memejamkan mata. Dia terus memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi. Ah, apakah Sekar Alun setega itu? Kenapa pula Aryo Sumbing seberani itu? Atau apa yang aku tidak ketahui? Ah, besok pagi aku harus menghadap guru, begitu batinnya. Dia tidak menyesal tidak mengejar bayangan itu. Dia yakin sosok bayangan itu juga telah mengetahui kehadirannya.

Matahari sudah setinggi dua tombak ketika seorang cantrik membangunkannya. Resi Durapada memintanya menghadap sekarang. Ah, keduluan dia rupanya. Sekarang dia kembali terkejut. Kenapa pula dengan gurunya ini?

Cantrik mengantarnya ke teras timur padepokan. Di sana gurunya sudah menunggu. Sekar Alun dan Aryo Sumbing juga ada di sana. Berdebar kencang jantungnya. Antara amarah yang memuncak kepada Aryo Sumbing dan tanda tanya besar atas panggilan gurunya.

Joko Sindoro membungkuk hormat kepada gurunya. Aryo Sumbing menatapnya. Tatapan yang berani. Bahkan terkesan sombong. Sementara Sekar Alun hanya menunduk. Tidak ada air mata. Tidak tampak penyesalan. Ah, semua menjadi jelas sekarang.

“Ngger, anakku Joko Sindoro. Jangan terkejut aku memanggilmu menghadap. Aku tidak ingin berpanjang kata. Kakang Girinata sudah mengirim utusan kepadaku. Sang Prabu sudah memutuskan, bahwa sepeninggalan Kanjeng Adipati yang tidak meninggalkan satu orang anakpun, maka harus ditunjuk Adipati baru. Syarat adipati baru itu harus sudah beristri. Atas permintaan Kakang Girinata, Sang Prabu setuju untuk mengangkat adik seperguruanmu, Aryo Sumbing. Dan atas permintaan Kakang Girinata pula aku setuju untuk menikahkan adikmu, Sekar Alun dengan Aryo Sumbing.”

Joko Sindoro tidak lagi mendengar kalimat berikutnya. Dadanya berguncang hebat. Nafasnya tercekat. Keringatnya mengalir deras. Lalu semua menjadi gelap. Joko Sindoro tak sadarkan diri.



Bersambung dengan judul “Ontran-ontran di Kadipaten Menoreh” dan “Dendam Joko Sindoro” . Insya Allah.

Minggu, 31 Mei 2009

Doa seorang tukang tambal ban


Ya Tuhan, seperti Kau lihat, sampai sesore ini belum juga ada pelanggan datang. Belum satu pun. Kemarin, hanya ada 2 pelanggan datang dan hanya mengisi angin. Seorang memberi seribu, yang seorang lagi hanya memberi gopek. Iya, hanya lima ratus rupiah.

Ya Tuhan, kalo akhirnya tidak ada juga satu pelanggan pun datang, maka berarti sama dengan 2 hari lalu. Itu artinya Engkau tidak memberiku rejeki pada hari ini. Juga 2 hari lalu. Padalah Tuhan, Engkau tahu, ada istri dan 3 anakku yang masih kecil-kecil yang harus aku beri makan. Apa Engkau lupa aku Tuhan? Atau Engkau sedang mengujiku?

Tuhan, kalau aku berdoa agar Engkau datangkan banyak pelanggan kepadaku, itu sama artinya dengan aku berdoa kepada-Mu agar banyak pengendara mobil atau motor terkena musibah. Kalo aku berdoa agar Engkau limpahkan banyak rejeki kepadaku, apa aku salah? Apa itu keliru? Lalu doa apa yang pantas aku panjatkan kepada-Mu?

Ada satu atau dua teman seprofesiku yang sering putus asa, lalu mereka berbuat jahat dengan menebar paku. Mereka bahkan tidak cukup hanya berdoa, tetapi mereka juga berihtiar. Mereka pikir, itu adalah bagian dari usaha terbaik untuk mencari pelanggan. Apa mereka salah? Lalu apa yang semestinya mereka lakukan? Ihtiar apa yang semestinya merek kerjakan? Apakah mesti pasang iklan di koran? Walau aku belum pernah berbuat begitu, tapi kadang-kadang aku bisa memahami juga bila mereka melakukan itu.

Tuhan, aku memang bukan orang pintar. Aku juga bukan anak orang kaya. Makanya aku rela hanya sebagai seorang tukang tambal ban. Selain karena terpaksa, aku pikir pekerjaanku ini juga mulia, karena menolong orang yang sedang tertimpa musibah.

Tuhan, sesungguhnya aku hanya ingin Engkau ajarkan aku berdoa yang benar. Itu saja. Agar anak-anak dan istriku bisa makan setiap hari. Sudah, itu saja Tuhan. Tidak lebih, cukup itu saja.

Amin.

Rabu, 20 Mei 2009

Bapakku

Namanya Darno. Itu nama resminya. Maksudnya, itu nama yang digunakan pada semua dokumen resmi, semisal kartu tanda penduduk. Nama sebenarnya adalah Sudarno. Itu nama pemberian orang tuanya.

Begitulah, masalah nama ini pun bisa menjadi salah satu hal bagaimana penilaian saya tentang Bapakku. Termasuk dalam hal ini namaku, yang sebenarnya adalah Taat Uji Joko Suseno, tetapi secara resmi menjadi Taat Uji Jakasuseno.

Bapakku adalah petani. Benar-benar seorang petani. Terlebih saat ini setelah beliau resmi pensiun setelah sekian puluh tahun mengabdi menjadi seorang guru SD. Iya betul, seorang PNS. Terakhir kali beliau menjadi guru di SDN Purwosari 1, Kranggan. Tetapi sesungguhnya, Bapakku tetaplah seorang petani. Dari dulu.

Bapakku seorang yang sederhana. Sangat bersahaja. Nrimo. Bahkan dalam beberapa hal, termasuk dalam kasus nama tadi, menurutku Bapak terlalu nrimo. Namun apapun yang saya ungkapkan nanti di sini, itu semua adalah sebuah perhormatanku pada Bapakku. Rasa hormat, cinta dan sayang seorang anak kepada Bapaknya dengan setulus hati.

Bapakku hanyalah lulusan sekolah tehnik pertama. Sebuah sekolah kejuruan setingkat SMP. Kalau kemudian hari akhirnya beliau bisa menjadi seorang guru, itulah kondisi dan kenyataan jaman itu. Terlebih lagi di suatu daerah seperti halnya Temanggung. Makanya walau pun beliau adalah seorang guru, sisa hari-harinya Bapak habiskan untuk bertani. Mengolah sawah, menanam padi, jagung, palawija. Memelihara sapi, ayam, entok. Sepenuhnya seperti kehidupan seorang petani lainnya.

Dulu sekali, sebelum Bapak mampu membeli sepeda motor tua secara mengangsur, Bapak harus berangkat mengajar pagi-pagi dengan berjalan kaki. Menaiki bukit berkilo-kilo meter jaraknya. Itu dilakukan setelah sebelumnya membantu Ibu menyiapkan jagung untuk dimasak sebagai nasi, mengganti beras. Proses pembuatan nasi jagung ini amatlah panjang. Tapi nanti saja cerita tentang nasi jagung ini.

Jadilah Bapakku berangkat kerja. Kalau jumpa musim hujan maka sengsaralah nasibnya. Sudah jalannya becek, licin, berlumpur. Sepatu harus ditenteng. Jarang ada kendaraan. Bisa sekali waktu ada kendaraan yang lewat, beruntunglah Bapak kalau bisa ikut bergelantungan di pintu. Begitulah.

(Insya Allah, bersambung)

Sabtu, 09 Mei 2009

Zona Tuli (ZonTul) Tol Cipularang


Anda yang sering mondar-mandir Jakarta-Bandung lewat tol Cipularang, pasti pernah merasakan ada suatu zona di sepanjang jalan tol itu yang kita akan merasa tuli. Atau setidaknya kualitas pendengaran kita berkurang. Bahkan mendengarkan suara kita sendiri saja terdengar aneh. Begitu bukan?

Saya sudah beberapa kali merasakan hal itu. Istri saya atau teman semobil yang lain juga menyatakan hal yang sama, telinga menjadi lebih tuli.

Ada yang tahu, fenomena apakah itu?