DUKA PAK ABDURAHMAN SI PENJUAL KORAN

Sahabatku...sekali waktu, cobalah kita perhatikan tubuh kita yg terlihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, betapa sempurnanya Allah menciptakan kita. Andai salah satu saja bagian tubuh kita tidak ada, betapa rumitnya hidup yang akan kita hadapi kendati pun kita tetap mampu bertahan hidup tanpa salah satu bagian tubuh kita. Bersyukur kita yang diberi anugerah oleb Allah dengan anggota badan yang lengkap. Bersyukur kita yang diberi Allah dengan rizki lebih. Bersyukur kita kepada Allh yang memberi pekerjaan yang baik. Tapi tidak untuk Pak Abdurahman. Segala keterbatasan telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, akibat dari kanker yang dideritanya beliau harus rela kehilangan hidung. Penghasilannya sebagai seorang penjual koran di pompa bensin di daerah Kasablanka, Jakarta Selatan hanya cukup untuk sekedar makan sehari-hari. Namun demikian, dengan segala keterbatasannya itu tidak menjadikan Pak Abdurahman mempunyai niat untuk menjadi pengemis atau peminta-minta. Tidak.! Baginya bekerja adalah wajib hukumnya. Tak peduli berapapun riski yang didapatkan. Bersyukur karena ia sering mendapatkan uang lebih dari mereka yang membeli koran dan merelakan uang kembalian. Namun begitu menjelang lebaran ini Pak Abdurahman berharap dapat membelikan baju baru dan ketupat lebaran buat keluarganya. Syukur-syukur ada uang lebih untuk ia bisa kembali berobat. Hidungnya yang sumbing dan hanya ditutup dengan plester membuat orang menjadi tidak tega untuk memandangnya. Sahabat..yuk lakukan kabaikan meskipun orang lain tak membalasnya dengan hal serupa. Kita niatkan segala kabaikan hanya untuk menggapai ridho Allah semata. Untuk sahabat yang Allah lebihkan rezekinya, silakan bila ingin membantu bisa transfer melalu rekening milik pengelola Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah No. 035-611 2622 atas nama Eko Supriyanto. Dalam salah satu foto Pak Abdurahman berdampingan dengan Sdr. Arief Fauzi (Benzo), salah seorang aktifis di komunitas Pengajian Al`Quran Learning Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah, Jakarta Selatan. Contact Person: 0816811330 (joko) atau 08990773322 (eko) MULIA KITA DENGAN MEMBERI, ABADIKAN HARTA KITA DENGAN SEDEKAH, TAK AKAN JATUH MISKIN ORANG YANG BERSEDEKAH, DAN TAK AKAN TAMBAH KAYA ORANG YANG MENAHAN HARTANYA RAMADHAN, SAATNYA MENGUMPULKAN BEKAL BUKAN MENAMBAH BEBAN, AYO KITA BORONG SELURUH AMAL SHOLEH DI BULAN MULIA INI Sekecil apapun bantuan Anda sangat berarti buat pak Abdurahman, semoga kerelaan Anda akan meringankan beban penderitaanNya

Jumat, 12 Februari 2010

Perjalanan 19 Tahun Sudah


8 Februari 1991 adalah awal sejarah bagi saya. Hari itu adalah hari pertama saya bekerja di perusahaan ini. Cecilia Masidin adalah Kepala Bagian Administrasi Kredit waktu itu. Dia yang mewawancarai dan menerima saya.

Di bagian itu sudah ada Erni Susdekawati (Mbak Erni), Nur Nugraha (Mas Nug), Erwin Soedianto (Ndut), Aprilillyanti Pertamasya (Yanti), Dina Chadiana, Ernawati, Evi Sophia, Lisa Nulhaq, Cony Pramagdiyani, Endah Nurnendah, dan Sarmi.

Pada saat pertama kali masuk, mBak Yanti (Aprilillyanti Pertamasya) sedang cuti melahirkan. Endah pengantin baru. Erna sedang hamil besar.

Begitulah. Setelah 19 tahun berlalu semuanya sudah berubah.

Mbak Cicil, Mbak Erni, Evi, Erna, Lisa sudah keluar dari BCA. Mas Nug ditugaskan di BCA Syariah. Saya dan Sarmi pindah ke UBKK. Erwin di BCA Menara Bidakara. Yang masih tinggal di sana hanya Mbak Yanti dan Endah saja.

Apa yang sudah saya dapatkan setelah 19 tahun. Banyak sekali. Insya Allah bisa diposting di lain kesempatan.

Kamis, 04 Februari 2010

Jeruk Lokam Cina Haram


Jeruk haram? Yang bener Pa? Jeruk kan buah-buahan? Apa karena berasal dari Cina terus Papa kuatir kecampur daging babi? Kan buah-buahan dari Cina bukan hanya jeruk lokam ini saja kan Pa? Papa ini aneh deh...

Itu adalah pertanyaan Dinda, putri kecilku. Pertanyaan yang bertubi-tubi mendengar laranganku agar dia tidak ikut-ikutan mencicipi buah jeruk kecil-kecil itu. Kami sedang berada di sebuah supermarket dan menyaksikan beberapa orang memilih-milih jeruk lokam. Satu dua orang terlihat membuka dan mencicipi jeruk sebelum dibayar ke kasir. “Iya bener, yang warnanya oranye lebih manis nih..” seorang Ibu berkomentar kepada seorang perempuan muda yang juga terlihat sedang mencicipi jeruk lokam itu.

“Ade, buah jeruknya tidak haram. Kan minggu kemarin mama juga beli. Maksud papa yang haram itu kalau kita mencicipi jeruk itu. Ade coba lihat, yang dicicipi itu kan belum dibayar. Mereka ambil dari tempatnya terus dimakan tanpa ijin. Berarti mereka makan sesuatu yang bukan haknya nak..Walaupun cuma satu buah, kecil lagi, yang haram tetap haram De... Nanti akan tetap diminta pertanggungjawaban di akherat...” jawabku.

Aku melanjutkan “Ade harus tahu, makanan itu haram bukan hanya karena ada babinya. Atau mengandung unsur babi. Kita makan yang bukan hak kita, itu juga haram. Makan daging ayam yang ketika disembelih tidak dengan cara yang benar juga haram. Gitu hlo de..Termasuk jeruk, kalo Ade ngambil jeruk punya orang tanpa ijin, itu berarti Ade makan jeruk yang haram. Itu maksud Papa tadi bilang Ade tidak boleh makan jeruk itu sebelum kita beli. Nanti setelah ditimbang, mama sudah bayar, Ade boleh makan semua deh...”

Aku tidak tahu si Ade Dinda ngerti apa tidak, karena ternyata dia lebih asyik milih berbagai macam snack untuk bekal sekolahnya. Ah, setelah ngomong panjang lebar begini, ternyata tidak didengar...

Rabu, 03 Februari 2010

Kotang Darat

Komunitas Pendaki Tangga Darurat

Teman-teman semua, cerita nenek jago lari di bawah ini bisa jadi terasa berlebihan bagi kita. Kemajuan tehnologi telah memberi kita banyak kemudahan. Jangankan gedung pencakar langit berlantai ratusan, gedung tidak seberapa tinggi dengan jumlah lantai 4-5 saja pasti telah memanfaatkan lift untuk memudahkan pengguna dalam hal naik-turun lantai.

Sementara itu jarak tempuh yang semakin jauh dari tempat tinggal ke kantor (karena rumah kita di Tambun, Bogor, Mauk, atau Gunung Sindur sementara kantor berada di Gatot Subroto atau Thamrin) atau waktu tempuh yang semakin lama karena kemacetan lalu lintas, menuntut kita untuk berangkat kerja lebih pagi. Begitu pun pulang kerjanya, sampai di rumah akan menjadi semakin malam. Dengan demikian waktu kita menjadi semakin habis tersita.

Lalu masihkah kita punya waktu untuk berolah raga? Jawabnya mungkin: boro-boro olah raga, untuk ngurus rumah dan anak-anak saja sudah tidak cukup waktu. Hari gini olah raga adalah barang mewah.

Namun benarkah demikian? Tidak adakah lagi sedikit waktu tersisa untuk menjaga kebugaran tubuh? Tentu kita tidak ingin hidup bersama penyakit yang bersarang di tubuh kita bukan? Kolesterol tinggi, stroke, jantung dll disamping karena kita tidak baik dalam menjaga pola makan, hal lainnya lagi adalah karena kita kurang olah raga. Bahkan mungkin bukan kurang, tapi TIDAK PERNAH.

Ada di lantai berapa kantor Anda? Lantai 2 atau 10 atau 30? Jam berapa jam kerja kantor Anda? Jam 8 pagi? Lalu jam berapa tiba di kantor? Jam 7.30 atau 7.45 ataukah 7.59?

Nah, saya punya tantangan menarik untuk Anda. Kenapa tidak coba lewat tangga darurat saja? Kalau kantor Anda di lantai 2 dan Anda mau lewat tangga, maka tidak butuh waktu sampai 1 menit. Bahkan mungkin lebih cepat dari waktu Anda untuk menunggu lift. Kalau Anda di lantai 10, Anda akan butuh waktu sekitar 5 menit. Tentu saya tidak menyarankan agar Anda naik tangga ke lantai 10 dari sejak awal Anda mau ikut tantangan ini. Tidak begitu. Anda bisa berlatih dulu dengan 2-3 lantai terlebih dulu, lalu meningkat setiap hari. Silakan Anda ukur sendiri kemampuan Anda.

Kantor saya di lantai 5 Wisma BCA Pondok Indah. Karena akses tangga darurat tidak bisa dimasuki dari ruang lobby utama, maka begitu saya tiba di lobby kantor, saya mesti berjalan ke memutar ke kiri gedung, menyusuri samping jalan utama, lalu masuk ke pintu tangga darurat. Dan pendakian pun dimulai. Tidak butuh waktu lama. Hanya sekitar 2-3 menit.

Saya baru memulai. Saya mengikuti jejak teman saya, Danu. Dia sudah lebih dulu melakukan ini. Anda bisa memulainya juga sekarang. Anda juga bisa menundanya sampai entah kapan. Karena menjaga diri kita untuk sehat atau bermalas-malasan dan akhirnya badan tidak siap menghadapi penyakit sejatinya adalah masalah pilihan.

Ajak teman2 Anda, sahabat Anda, kekasih Anda, suami atau istri Anda, untuk memanfaatkan seikit waktu yang kita punya untuk berolah raga. Mari bergabung dalam komunitas sehat, Komunitas Pendaki Tangga Darurat (KOTANG DARAT) di kantor kita. Kalau kita konsisten bisa menjalani ini, maka insya Allah kesehatan kita akan selalu prima. Tidak percaya? Ayo kita coba. Kalo Anda belum berani mencoba, minimal sebar e-mail ini ke teman atau kenalan Anda. Siapa tahu bisa menginspirasi mereka.

Salam sehat.


Joko Suseno
Blog: http://jurnaljokosuseno.blogspot.com


NENEK JAGO LARI
By. Achmad Taufik
“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.” (Aristoteles)
Bagi yang tidak terbiasa, jangankan berlari, berjalan mendaki anak tangga sebuah gedung bertingkat delapan tentu terasa sangat melelahkan. Langkah demi langkah seiring bertambahnya anak tangga yang dipijak, ayunan kaki terasa semakin berat, semakin lambat. Bertambah ke atas, komplikasi antara nafas ngos-ngosan, paha nyut-nyutan, bahkan pandangan yang pyar-pyaran misalnya, sangat mungkin terjadi. Itu baru delapan lantai, bagaimana kalau sepuluh kali lipatnya (80-an lantai), kalau tidak jantungnya copot, minimal pingsan barangkali.
Tapi beberapa bulan yang lalu saya menyimak sebuah berita mengejutkan di televisi: SEORANG NENEK BERUMUR 72 TAHUN BERHASIL MENYELESAIKAN (DENGAN SELAMAT) LOMBA LARI MENAIKI TANGGA GEDUNG EMPIRE STATE BUILDING (NEW YORK, AS) SETINGGI 86 LANTAI, DENGAN CATATAN WAKTU: 22 MENIT.
Masya Allah…., sambil geleng-geleng kepala, komentar saya antara: “Sampun tho..Mbah, Mbah!” (Sudahlah ..Nek, Nek !), dan “Koq, nenek-nenek masih kuat ya..?!”
Lalu, bagaimana seorang nenek yang sudah berumur 72 tahun bisa melakukan itu?
Bila komentar kita kepada sang nenek: “Nek, Luar Biasa..!!” Maka dengan santai ala gadis belia, barangkali ia akan menjawab: “Sudah biasa, tuh!” Dan jawabannya tersebut benar. Ia bisa karena biasa. Biasa berolahraga, jogging misalnya, dan latihan lari mendaki anak tangga tentunya.
Kegiatan mengulang-ulang sesuatu sebagai bentuk dari kebiasaan merupakan elemen dasar pembelajaran (basic element of learning). Dengan terbentuknya kebiasaan tersebut, maka gerak tubuh dan fikiran seseorang akan berjalan spontan, nyaris tanpa hambatan. Sesuatu yang terlihat sukar bagi orang lain menjadi tampak mudah bagi yang biasa melakukan.
Bagi Mbak Atik dan Mas Reza ‘Dedaunan’ misalnya, menulis barangkali terasa mudah bahkan nikmat, karena sudah biasa. Tapi bagi yang belum terbiasa, pekerjaan tulis-menulis mungkin terasa begitu sulit bahkan menyiksa. Komputer sudah panas, tulisan satu alinea belum kelar-kelar juga. ‘Menthelengi’ monitor terus! Begitulah, kurang lebih gambarannya.
Padahal apa pun wujud kebiasaan, baik maupun buruk, pastilah tidak mudah pada awalnya. Itu sudah menjadi rumus. Contoh buruk: maling, misalnya. Pada awal menjalankan kebiasaan jeleknya, tentu tidak mudah. Keringat yang segede-gede jagung, rasa takut yang sangat, dan gampang kepergok, mewarnai pekerjaan amatirannya. Proyek maling berikutnya berjalan lebih lancar, rasa takut berkurang dan operasi pun berjalan lebih mulus. Setelah menjadi kebiasaan dan profesional, rasa takut tak ada lagi, hasil jarahan bertambah besar, dan untuk menangkapnya pun polisi mengalami kesulitan. Na’udzubillah!
Begitu pula kebiasaan baik, awalnya pun tidak mudah. Bila Anda sekarang begitu lihai menggeber sepeda motor, masih ingatkah Anda pertama kali belajar naik sepeda? Bila Anda sekarang begitu lancar memberikan konsultasi kepada Wajib Pajak sehingga membuatnya terpesona (“Wuiih.., dasar Cah STAN!”), masih ingatkah Anda pertama kali belajar Akuntansi dan Perpajakan waktu kuliah dulu? Bagaimana bila posisi Anda dibalik, Anda yang mendengarkan uraian WP tentang bidang pekerjaannya, bukankah ganti Anda yang terpesona? Biasa buat Anda, barangkali luar biasa buat orang lain. Sebaliknya, biasa buat orang lain, mungkin luar biasa buat Anda. Begitulah istimewanya sebuah kebiasaan.
Yang patut menjadi perhatian kita adalah apa pun bentuk kebiasaan, baik maupun buruk, pada akhirnya akan mewujud sebagai sebuah karakter. Dan sebuah karakter menjadi ciri kepribadian seseorang yang meskipun tidak mustahil, namun seringkali tidak mudah untuk diubah. Orang Jawa bilang,“Watek digawa ngurek!” (Watak dibawa mati!).
Dari sekelumit kisah dan uraian singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa kita adalah apa yang biasa kita kerjakan. Menyadari bahwa kebiasaan seringkali tidak mudah untuk diubah, maka sudah seharusnya kita untuk bersungguh-sungguh mencegah diri untuk memulai kebiasaan buruk. Dan karena keunggulan kita terletak bukan semata-mata dari suatu perbuatan melainkan dari kebiasaan baik yang senantiasa kita kerjakan, maka marilah kita memulainya dari sekarang, meskipun dari hal yang kecil. Bukankah, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah SWT lebih menyukai amal ibadah yang kecil tetapi dikerjakan terus menerus daripada besar tapi kemudian terputus?!
Perhatikan minat, bakat, dan keunggulan Anda, lalu kerjakanlah berulang-ulang, Insya Allah Anda akan sukses!
Wallahu a’lam bish-showab.

Jumat, 15 Januari 2010

Setelah 19 tahun


Tidak terasa 19 tahun sudah berkantor di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan. Selama itu pula masa kerja saya di perusahaan ini.

Hari ini adalah hari terakhir saya berkantor di Jl. Jend. Sudirman, karena mulai tanggal 18 Januari 2010, atau Senin depan sudah mesti menempati kantor baru di Wisma BCA Pondok Indah, Jl. Metro Pondok Indah No.10 Jakarta Selatan.

Sudah banyak suka duka yang saya alami selama berkantor di Sudirman. Pada masa awal-awal dulu, ketika masih numpang tinggal di rumah paman di Cibubur, berangkat ke kantor harus pagi-pagi sekali. Ba’da subuh mesti berangkat, karena sedikit saja terlambat maka akan kesulitan mendapatkan bis Mayasari P16 jurusan Tanah Abang. Dan itu berarti absen terlambat.

Saat kos di daerah Setiabudi, belakang kantor, tentu saja tidak pernah merasakan kemacetan. Sangat berbeda ketika sesudah berkeluarga terus tinggal di rumah kontrakan di Kramatjati, Jakarta Timur. Banyak sekali titik kemacetan yang harus dilewati. Mulai Cililitan, Cawang, sepanjang jalan MT. Haryono, Pancoran, Mampang, Gatot Subroto. Uiih parah. Apalagi kini, saat sudah punya rumah sendiri di Pamulang, titik kemacetan bertambah dari sejak Ciputat, Pasar Jum’at, Pondok Indah, Radio Dalam, Bendungan Hilir, dan masih banyak lagi. Jarak tempuh sekitar 26 KM dibutuhkan waktu 1,5 jam.

Senin besok, setelah pindah di Pondok Indah (lebih tepatnya Lebak Bulus, karena posisinya berseberangan dengan Carrefoure Lebak Bulus), jarak perjalanan menjadi tinggal 12 KM. Waktu tempuh sekitar ½ jam atau kalau hari senin (biasanya hari paling macet dalam seminggu) butuh waktu ¾ jam.

Alhamdulillah, akhirnya setelah 19 tahun, Allah kasih kemudahan dengan mendekatkan jarak rumah ke kantor. Patut disyukuri bukan? Harus disyukuri tentu saja.

Tentu saja ada yang sedih karena kantornya menjadi lebih jauh dari rumah. Bersabar ya. Seperti saya juga telah bersabar selama 19 tahun.

(Hihihiii jadi ingat pelajaran mengarang sewaktu masih SD dulu...begini ini model tulisannya).

Rabu, 09 Desember 2009

Undangan Silaturahmi Asrama Abu Bakar NFBS

Kami mengundang Bapak/Ibu orangtua santri kelas 8 Nurul Fikri Boarding School - Anyer yang putra-putranya (tholib) tinggal di asrama Abu Bakar untuk bertemu menjalin silaturahmi sebagai berikut:

- Hari / Tanggal : Ahad, 3 Januari 2010
- Waktu : Jam 10.00 s/d 12.00 WIB
- Tempat : Masjid Tholib
- Agenda : 1. Ramah tamah dengan wali asrama
2. Menggali kebutuhan asrama
3. Curhat kondisi santri dan komunikasi dengan wali asrama
4. Rencana rihlah, dll

Mengingat bahwa sesudah pertemuan tersebut akan ada pertemuan antara Yayasan - Sekolah - Orangtua seluruh santri (Tholib dan Tholibah kelas 7 SMP s/d kelas 12 SMA), maka pertemuan di asrama Abu Bakar ini menjadi sangat strategis karena hasilnya dapat dibawa pada forum yang lebih besar.

Apabila Bapak Ibu memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi kami melalui e-mail dan Hp berikut:

e-mail: pakneestu@gmail.com dan jokosuseno34@yahoo.com
hp : 0816.811.330 atau (021) 71525620
atau dapat bergabung di: NFBS@yahoogroups.com

Demikian dan terima kasih.



Joko Suseno
Orangtua M. Estu Kresnha

Kamis, 26 November 2009

Lika-liku pembuatan paspor












Suara anakku di telpon malam itu terdengar lebih antusias. Estu yang berbeda. Rupanya siang tadi ada pengumuman dari Ustadz Agung bahwa diberi kesempatan kepada yang berminat untuk mengikuti jambore yaitu bagi pramuka atau pelajar dari sekolah Islam Indonesia ke Malaysia. Bagi yang berminat maka kepadanya dibebani biaya tiket pesawat, akomodasi untuk 7 hari, dan city tour sejumlah empat juta lima ratus ribu rupiah. Itu rupanya masalahnya.

Sebagai orangtua tentu kami mendukung. Biarlah kami cari uangnya entah kemana, sementara saya minta Estu mencari informasi sejelas-jelasnya. Kami akan mengusahakan untuk mengurus paspos untuknya.

Besok paginya, dengan meminjam hp salah seorang Ustadz, Estu telpon untuk minta ditelpon balik. Dalam antusiasnya ada kepanikan. Rupanya besok adalah batas terakhir pendaftaran peserta jambore. Saya bilang, bagaimana mungkin urus paspor secepat itu. Sedang urus KTP yang lebih sederhana saja tidak secepat itu. Sedang untuk urus paspor Estu mesti datang ke kantor imigrasi, sedang sekarang saja masih di sekolah, di Anyer sana.

Masih belum puas, agak sore Estu kembali pinjam hp. Kali ini Ustadz Idris yang menjadi korban. Sama, hanya untuk minta ditelpon balik. Masih dengan penasarannya, panik dan terbaca antusiasnya untuk bagaimana caranya bisa ikut ke Malaysia, kembali dia menanyakan ada perkembangan apa sejauh ini. Dia minta agar saya bicara dengan Ustadz Idris, barangkali ada jalan keluar. Rupanya Ustadz Idris menyarankan untuk menghubungi Ustadz Win saja, Bapak Kepala Sekolah SMP.

Singkat cerita Ustadz Win minta maaf dengan apa yang terjadi dan memberi panawaran jalan keluar lain yaitu dengan menambah waktu pendaftaran menjadi satu minggu lagi tetapi ada resiko biaya tiket berubah. Naik tentu saja.

OK, besoknya berkoordinasilah saya ke sana sini.Tanya prosedur pembuatan paspor ke saudara yang kebetulan bekerja di biro jasa. Minta ijin Ustadz Uyun, wali asrama dan Ustadz Tatwa, wali kelas, agar Estu boleh pulang urus paspor. Tanya yayasan apakah bisa nitip Estu untuk pulang.Ternyata mobil yayasan tidak bisa, sudah terlalu penuh. Ya sudah, malam-malam kami jemput Estu. Rupanya Malik dan Gary ikut kami pulang.

Besoknya, yaitu hari ini, mulailah proses pengurusan paspor. Terpaksa saya ambil cuti sehari. Sebenarnya proses sudah dimulai sejak kemarin, yaitu mendaftar melalui biro jasa. Biaya pembuatan paspor tujuh ratus lima puluh ribu (rp.750.000,-). Kami pikir cukup mahal karena Mama Indana dengan proses yang sama, di tempat yang sama pula, yaitu kantor imigrasi Jakarta Selatan, biayanya hanya lima ratus ribu (rp.500.000,-).

Baiklah, kami sedang butuh. Lagian kami buta urusan begini. Kami pikir yang penting masalah ini bisa segera selesai.

Masalah lain muncul, yaitu KTP saya sudah kadaluarsa. Sudah habis awal bulan lalu. Mana sempat urus KTP secepat itu. Untunglah biro jasa bilang, bisa dengan resi pengurusan KTP. Jadilah pagi ini urusannya ke BCA tarik tunai, terus ke BSM setor untuk rekening panitia jambore, ke kelurahan ketemu Bu Sintia urus resi KTP, lalu pulang lagi karena surat undangan dari Malaysia yang mau ditunjukkan ke imigrasi tertinggal di rumah, terus ngebut ke kantor istri di BCA Ciputat karena ada berkas-berkas dari biro jasa yang mesti ditanda tangan oleh ibunya Estu, istri saya.

Menuju ke Ciputat macet parah. Hanya dari simpangan fly over ke BCA yang jaraknya sekitar 500 meter saja butuh waktu sepuluh menit. Saat itu sudah jam 10 lewat, padahal janjian sama biro jasa ketemu di imigrasi jam 11 siang ini. Tinggal tunggu foto saja katanya.

Selepas Ciputat jalan masih macet parah. Padat merayap. Begitu berhasil masuk tol pondok indah langsung tancap gas. Lewat perempatan ragunan - warung buncit sudah jam 11 lewat. Di situ juga macet parah. Telpon Pendi si petugas dari biro jasa, dia sudah di lantai dua kantor imigrasi. Dia minta agar kita bisa cepat atau nanti saja setelah jam satu lewat. Saya minta dia nunggu. Kita usahakan cepat. OK, salip kanan salip kiri, akhirnya sampai juga.

Ketemu Pendi, lalu diminta menunggu panggilan. Tidak ada sepuluh menit, kita dipanggil masuk.

Rupanya di dalam ruangan tidak kalah sibuk. Banyak sekali petugas imigrasi yang menangani pembuat paspor. Sibuk dan serius. Seorang petugas khusus memanggil antrian sambil mondar-mandir mengatur lalu lintas berkas. Sangat sigap. Lebih banyak lagi para pengunjung, karena setiap petugas melayani satu orang pengunjung berikutnya sudah diminta menunggu di dekatnya.

Begitulah. Estu dipanggil. Ditanya ini itu. Konfirmasi data saja. Dan lebih banyak saya yang jawab. Selesai. Estu diminta tanda tangan beberapa lembar dokumen. Lalu proses scaning sepuluh jari tangan. Tidak ada sepuluh menit. Efisien. Lalu saya tanya apakah masih ada dokumen yang kurang? Dia jawab tidak, sudah lengkap. Saya tanya lagi, kapan paspor akan selesai? Dia jawab, silakan tanya sama Bapak yang tadi antar.

Baiklah, cerita kita persingkat. Saat keluar, sebelum kami sholat dhuhur dan bermasuk pulang, kami sempat melihat papan pengumuman tentang syarat dan prosedur pembuatan paspos dan berapa biayanya. Detail Rinci. Sangat jelas. Jelas jauh berbeda dengan biaya yang diminta oleh si biro jasa. Biaya pembuatan paspor baru 48 halaman hanya Rp.200.000,- bukan Rp.500.000,- apalagi Rp.750.000,- seperti yang sudah kami bayarkan.

Akhirnya kami sadar bahwa sangat penting untuk mencari informasi sebanyak mungkin sebelum kita melakukan sesuatu hal yang baru.

Tapi sudahlah. Kami sedang terburu-buru. Yang penting kekawatiran Estu tidak bisa ikut ke Malaysia terhapus sudah.

Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk kita semua.

Jumat, 30 Oktober 2009

Sebuah Wasiat


Bismillah.

Saya ingin berwasiat kepada istriku, anak-anakku, Ibu dan Bapakku, serta adik-adik dan kakakku. Juga untuk kalian semua.

Semerti kita semua tahu bahwa umur itu di tangan Allah swt. Itu betul-betul hak prerogatif yang tidak seorang pun bisa menggugatnya. Namun sudah tahu demikian, kita seringkali masih merasa tidak rela bila Allah akan menjalankan hak prerogatifnya itu.

Maka dari itu saya ingin berwasiat di sini. Bila waktunya tiba, Allah mengirimkan utusannya si malaikatul maut untuk mencabut nyawa saya mendahaului kalian semua, maka saya ingin kalian menjalankan ini.

Istriku, jadilah wanita yang kuat. Beri contoh dan teladan anak-anakmu agar mereka juga menjadi pribadi-pribadi yang kuat, tapi juga santun, lemah lembut, baik pada semua orang, menjaga rasa malu, dan takut hanya sama Allah ta’ala. Kalau suatu saat Mama berfikir bahwa menikah lagi akan membuat Mama lebih tenang menjalani hidup, terlebih apabila anak-anak kita jauh karena harus sekolah atau bekerja, misalnya, jalani saja. Niatkan semata-mata hanya untuk mendapat ridho Allah. Pilihlah laki-laki yang menjaga sholatnya, itu saja cukup.

Mas Estu, Papa selalu bangga sama Mas. Papa tidak terlalu ingin Mas jadi orang hebat dalam segala hal. Buat Papa, cukuplah Mas jadi orang hebat di mata Allah saja. Pendidikan dan kehidupan pesantren yang Mas jalani selama ini, Papa sangat yakin akan menjadi bekal yang sempurna bagi Mas untuk menjalani kehidupan Mas nanti. Kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Jadilah orang yang lemah lembut, santun, baik pada semua orang, jaga rasa malu, disiplin, bekerja keras, dan takutlah pada Allah saja. Dengan itu semua Papa yakin, apapun yang Mas ingin raih, insya Allah akan tercapai.

Ade ntes, Dindanya Papa. Princess tercantik yang pernah Allah ciptakan di dunia ini. Ade itu anak hebat. Pinter. Hanya Papa sangat berharap agar Ade tidak lagi marah-marah, galak, dan malas. Anak pintar sebesar Ade bisa pakai baju sendiri, ambil barang-barang sendiri, susun jadwal sendiri, mandi sendiri. Jangan terlalu banyak makan, karena kalau sudah terlanjur gendut, akan susah untuk menguruskannya lagi. Jangan terlalu sering jajan di sekolah. Lebih sehat makanan dari rumah. Perbanyak hafalan al Qur’annya, karena ternyata Ade tahu bahwa ketika Ade mau benar-benar menghafal, semua terasa begitu mudah. Tahu-tahu Ade sudah hafal satu surat yang terdiri dari belasan ayat dalam waktu singkat. Ade beda dengan Mas, tapi sayangnya Papa sama. Jadilah anak yang menyenangkan orang banyak ya Nak. I love you.

Bu’e, kalau ternyata ketika Bu’e baca wasiat ini saya mendahului Bu’e, maka tolong ikhlaskan saja. Jangan saya ditangisi. Kalau boleh saya hanya ingin minta Bu’e selalu membacakan surat la Fatikhah 5 kali sehari setiap kali habis sholat. Itu saja. Yang lain, beri senyum pada semua orang, toh tidak perlu beli. Jangan beri orang prengutan, karena toh tidak ada manfaatnya.

Bapak, banyak hal baik yang saya dapat dari Bapak. Saya bangga sama Bapak. Ada juga beberapa hal yang rasanya tidak perlu saya ikuti dari Bapak, misalnya rasa kurang percaya diri. Tapi di atas itu semua, saya tidak pernah menyesal menjadi anak Bapak. Doakan saya selalu Pak, supaya nanti Allah pertemukan kita di syurga.

Adik-adikku semua, hidup ini memang sering kali tidak indah. Kadang terasa begitu berat dan kadang menyakitkan. Hanya dengan berserah diri kepada Allah sajalah maka kita akan bisa menjalani semua ini dengan ikhlas. Jangan pernah sekalipun meninggal Allah, maka niscaya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Berdoalah, maka Allah akan memberikan yang kita minta. Kalau tidak sekarang, suatu hari ini nanti. Pasti. Karena Allah itu Maha Menepati Janji.

Mbake, beban di hati saya yang sekian lama terpendam, alhamdulillah hilang sudah. Setelah sekian lama cobaan demi cobaan silih berganti, sekarang karunia dan berkah Allah sudah kamu rasakan. Bersyukurlah, karena dengan bersyukur Allah akan melipatgandakan nikmat yang sudah kita terima. Percayalah.

Untuk semuanya, maafkan semua kesalahan dan kekhilafan saya. Mohon ikhlaskan kalau saya pernah punya hutang tetapi lupa untuk melunasinya, dalam bentuk apapun. Termasuk janji-janji saya yang belum sempat terbayar.

Saya titipkan anak-anak saya, Muhammad Estu Kresnha Prameswara dan Aisyah Estu Dhannoviandra Prameswara. Tolong ingatkan mereka jika suatu hari nanti kalian dapati mereka lalai atau melenceng dari nilai-nilai Islami.

Itu saja ya. Saya pamit ya. Assalamu’alaikum.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Pesan Penting dari Temanggung (bukan dari Noordin M. Top)


Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1430 Hijriyah. Semoga seluruh rangkaian amal ibadah kita yaitu puasa kita, tarawih kita, bacaan al Qur'an kita, sedekah kita dan bukan hanya itu, tetapi termasuk juga tegur sapa kita, senyum kita, memberi kesempatan orang menyeberang jalan, menyalakan lampu sein saat hendak berhenti, berbelok atau mendahului, dan termasuk apapun juga yang kita niatkan ikhlas lillahi ta'ala, maka akan diperhitungkan sebagai jariyah kita dengan balasan berlipat ganda dari Allah swt, baik di dunia ini maupun kelak di akherat nanti. Amin.

Di awal puasa ini kami ingin mengajak Anda semua berwisata kuliner sejenak. Hanya imajiner. Mari bayangkan sore nanti Anda mendapatkan undangan berbuka puasa dari kedutaan Kuawait. Acara buka puasa dilaksanakan di sebuah restoran terbaik di hotel termewah di Jakarta. Hidangan disiapkan oleh chef utama dengan menu beraneka rupa pilihan. Masakan tradisional Indonesia ada. Masakan ala timur tengah ada. Masakan international lengkap. Pendek kata, apapun makanan terlezat yang pernah terbayang di pikiran Anda, semua ada di sana. Prasmanan. Kita bebas mondar-mandir ambil sana comot sini. Sekenyangnya. Sampai kemlakaren. Begitulah.

Singkat cerita, Anda sudah kembali di rumah. Besok pagi, menjelang sahur, perut memberi aba-aba Anda harus ke belakang segera. Panggilan alam yang tidak bisa ditunda-tunda. Tergopoh-gopoh. Buumm. Ah, lega...
Eit..tunggu dulu, bukan begitu ceritanya. Di-rewind dulu. Saat Anda nongkrong, ternyata ada masalah. Tidak bisa keluar. Perut sakit dan mendesak-desak, tapi tetap tidak bisa keluar. Keringat dingin bercucuran..Bahkan air mata. Sakit luar biasa. Anda pun teriak-teriak minta tolong orang rumah. Akhirnya harus dilarikan ke dokter atau rumah sakit.

Maaf, mungkin cerita itu terlalu ekstrim. Berlebihan. Lebay..
Tapi coba mari kita bayangkan apa yang dialami oleh Slamet. Lebih dari 25 tahun penderitaan yang mungkin lebay buat kita, dia alami selama bertahun-tahun. Kenapa? Karena Slamet tidak punya alat pembuangan. Kanal yang mestinya menggelontorkan kotoran, seperti yang kita sama-sama miliki, tidak dipunyai oleh Slamet. Sebuah penderitaan yang bahkan kita tidak ingin membayangkannya bukan...? Slamet Imtichan, anak pasangan Parwito dan Sriyani dari dusun Lembujati, kecamatan Gemawang, Temanggung harus menanggung semua itu sekian lama. Akan selamanyakah?

Lalu kenapa bisa begitu lama? Bukankah ada rumah sakit? Kenapa tidak dioperasi? Kenapa begini? Kenapa begitu? Pertanyaan yang logis. Tentu dari kaca mata kita.

Kemiskinan yang mengharu biru keluarga Slamet membuat pertanyaan-pertanyaan logis itu tidak bisa terjawab. Sulit untuk bisa dijawab.

Hanya saja, lewat tangan LZT, Slamet mengharapkan Anda semua dapat membantunya memberi jawaban. Kita semua dapat membantunya mencarikan "jalan keluar" yang sebenarnya. Meringankan penderitaan yang telah dia sandang bertahun-tahun.

Momentum bulan Ramadhan ini adalah kesempatan emas untuk kita berlomba-lomba berbuat kebaikan. Bahkan Anda diperbolehkan untuk mencuri start. Kita boleh memberi lebih. Lebih baik sekarang, sesegera mungkin, atau Allah tidak akan memberi kita kesempatan berikutnya.

Untuk keperluan operasi ini, Slamet membutuhkan biaya sekita Rp.7-8 jutaan.

Lumbung Zakat Temanggung, insya Allah siap membantu Anda untuk menyalurkan bantuan untuk Slamet Imtichan.


Silakan transfer zakat, infaq dan sedekah Anda ke rekening LZT:

Rekening ZAKAT
No. 6760.151.899
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094723.7
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini
Rekening INFAQ dan SADAQAH
No. 6760.151.988
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094724.5
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini
Rekening TABUNGAN KURBAN
No. 6760.151.881
Bank BCA
An. Ismawati
No. 155.00.0094728.6
Bank Mandiri
An. RPH Listyarini

Konfirmasi ke Pengurus harian LZT:

RPH Listyarini (Ririen)
Telp: (021) 557.44.560 HP: 0816.1180.754
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=rphririen@gmail.com

Falakiyatun Muniroh (Mun)
Telp: (021) 546.37.16 HP:0815.8469.2641
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=f_muniroh@yahoo.com

Ismawati (Isma)
Telp: (021) 746.33.728 / 746.33.730 HP: 0812.8144.226
e-mail: http://us.mc1101.mail.yahoo.com/mc/compose?to=ismawati.bujoko@gmail.com

Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Sabtu, 08 Agustus 2009

Komunitas Sol Sepatu











Nama yang aneh. Sama seperti aktifitasnya yang juga aneh. Aneh di mata orang-orang kebanyakan.

Adalah Pak Eko, staf admin di kantor saya dan Firdaus, staf outsourcing yang menjadi aktifis utamanya. Beberapa yang lain masih banyak yang belum konsisten. Kadang ikut, kadang tidak. Saya sendiri masih masuk ke dalam golongan yang belum benar-benar konsisten.

Di kantor ada sebuah mushola kecil. Hanya muat dua shaf pendek. Paling banyak 6 laki-laki di depan, dan 7 sampai 8 perempuan di shaf belakang. Pak Eko dan Firdaus selalu sudah ada di mushola sebelum waktu sholat. Kemudian satu dua susul menyusul. Karena kami saling menunggu bila tahu masih ada yang sedang mengambil wudhu.

Paling tidak 3 kali waktu sholat kami usahakan berjamaah di awal waktu, yaitu dhuhur, asar, dan maghrib. Menjelang waktu dhuhur tiba, sementara orang-orang sedang sibuk untuk keluar makan siang, Pak Eko dan Firdaus sudah menunggu di musholla.

Komunitas yang aneh. Komunitas Solat Selalu Tepat Waktu atau Sol Sepatu, menjadi aneh karena orang-orang mendahulukan makan siang, mereka mendahulukan solat tepat waktu.

Senin, 27 Juli 2009

Mencari Jasmin Jutting


Jasmin Jutting adalah Sri Winarsih, anak pasangan Sumidah dan Dahuri dari sebuah desa terpencil di lereng gunung Sumbing bernama desa Kebon Agung, kecamatan Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia.

Jasmin Jütting is Sri Winarsih. She is the daughter of Sumidah and Dahuri. The couple lived in Kebon Agung village, located at the Sumbing Hill, Temanggung (Middle Java, Indonesia).

Jasmin Jutting ist Sri Winarsih .Sie ist die Tocher von Ehepaar Sumidah und Dahuri von einem kleinen Dorf ,das auf niedrigen ebene von dem Berg von Sumbing,Dorfer Kebon Agung,Bezirk Tembarak,Temanggung,mittel von Java,Indonesia

Lama sekali keluarga kami mencari jejak Jasmin Jutting, sampai suatu ketika, sekitar tahun tahun 1999, Jasmin Jutting muncul di Kebon Agung. Hanya beberapa saat untuk kemudian menghilang lagi. Karena kemiskinan dan kebodohan keluarga saya di sana maka tidak terpikir untuk menjalin komunikasi selanjutnya.

Since a long time ago, my family has been looking for Jasmin Jütting. Until one day in year 1999, Jasmin Jütting visited Kebon Agung for a short period of time and disappeared afterward. Because of poverty and foolishness, my family did not even think of weaving their relationship or involving in any further communication with Jasmin.

Seit langer Zeit hatten unsere Familie nach Jasmin Juetting ‘s Spuere,Befinden gesucht.Einmal im Jahre 1999 tauchtet jusmin Juetting in sehr kurze Zeit in Dorf Kebon Agung auf und schnell verschwindet .Da wegen Armut und Dummheit von Familie hatten die Adresse, telefon Nummer von Jasmin juetting fuer zukuenftige Verbindungen nicht gefragt.

Cerita selengkapnya tentang Jasmin Jutting adalah begini:
The following is the detailed story of Jasmin Jütting:
Die Geschichte von Jasmin Juetting ist folgendes:

Bapak saya namanya Sudarno. Saat ini usianya 67 tahun. Kakek saya dari Bapak namanya Suyitno, yang setelah menikah berganti nama menjadi Tjipto Sumarto. Beliau telah meninggal ketika Bapak belum dewasa.

My father’s name is Sudarno. He is currently 67 years old. The name of grandfather, from my father’s side, is Suyitno, who then changed his name to Tjipto Sumarto after he got married. He passed away before my father stepped into adulthood.

Mein vater hiess Sudarmo. Er ist 67 Jahre alt. Mein Grossvater hiess Sujitno, nach geheiratet hat seinen Namen geaendert ,bekommen Tjipto Sumarto.Er war schon gestorben wenn mein Vater noch klein kind war.

Suyitno, kakek saya, punya 2 orang adik yaitu Sumidah (70 tahun), perempuan, dan Sutrisno (68 tahun), laki-laki. Sumidah pernah 3 kali menikah dan memiliki 7 orang anak. Sutrisno pindah ke Jambi, Sumatera bersama anak istrinya dan saat ini tidak tahu kabar beritanya.

Suyitno, my grandfather, has a sister, Sumidah, and a brother, Sutrisno. His sister, Sumidah, has been married for three times and she has seven children from those marriages. His brother, Sutrisno, moved to Jambi, Sumatra, with his wive and children, and currently his whereabouts is unkown.

Suyitno,mein Grossvater hatten eine Schwester,hiess Sumidah und einen Bruder,hiess Sutrisno.
Sumidah hatten shon dreimal geheiratet und hatten 7 Kinder.
Der Sumitro zog mit seine Familie nach Jambi,Sumatra um. Wo bis jetz noch keine Nachricht von ihn.

Sudarwati (50 tahun), Siti Watiah (48 tahun), dan Katon Topo (46 tahun) adalah anak dari suami pertama Sumidah. Utami ( 40 tahun) dan Wahono (37 tahun) adalah anak dari suami kedua. Sri Winarsih (34 tahun) dan Lulik Widyabakti (32 tahun) adalah anak dari suami terakhir. Suami terakhir Sumidah bernama Dahuri.

From Sumidah first marriage, she got three children (Sudarwati, Siti Watiah and Katon), two children from her second marriage (Utami and Wahono), and two children from her last marriage (Sri Winarsih and Lulik Widyabakti). The name of Sumidah’s last husband is Dahuri.

Sudarwati,Siti Watiah und Katon waren die Kinder von erste ihre Eheman
von Sumidah. Utami und Wahono waren die Kinder von zweiten Eheman von Sumidah. Sri Winarsih und Lulik Widyabakti waren die Kinder von dritten,letzen Eheman von Sumidah, genante Dahuri.

Saat Sri Winarsih berumur 3,5 tahun, Sumidah menyerahkan kepada seseorang untuk diadopsi. Alasannya adalah kesulitan ekonomi yang teramat sangat. Miskin yang mendalam. Menghidupi 5 orang anak saja bukan pekerjaan mudah. Ditambah Sri Winarsih dan adiknya, maka lengkap sudah kemiskinan yang mengharu biru.

When Sri Winarsih was 3,5 years old, Sumidah gave her away for adoption. Great poverty was the main reason for her in making that difficult decision. Moreover, maintaining a decent living for her five children is not an easy task. Hence, having Sri Winarsih and her little sister has worsened the inevitable curse, great poverty.

Sumidah hat Sri Warnasih, als sie 3,5 Jahre alt war zu Jemanden gegeben um sie zu adoptieren lassen. Wegen der ganz tiefen Armut und die wirtschaftliche Situation ,war die Familie nicht in der Lage die 5 Kindern plus Sri Winarsih und noch ihre Schwester zu ernaehren und erzogen.Das war die katastrophal im Leben, welt utergang begonnen.

Belakangan diketahui bahwa ternyata Winarsih dibawa ke Jerman dan diadopsi oleh warga negara Jerman. Namanya pun diganti menjadi Jasmin Jutting. Sejak saat itu hubungan pun terputus.

Recently, we found out that Sri Winarsih was taken to Germany and adopted by the German citizen. Her name was changed from Sri Winarsih to Jasmin Jütting. Since then, there is no information about her whereabouts.

Nach der letzten Information Sri Winarsih war adoptiert werden bei einer deutchen Familien und den Namen Jasmin Jutting ernant. Seit der Zeit ist kommunikation gebrochen.

Jadi Jasmin Jutting adalah adik sepupu Bapak saya.

Thus, Jasmin Jütting is my father’s cousin.

So Jasmin Jutting ist nicht anders als der kusine von mein Vater.

Kami sangat mengharap bantuan semua pihak untuk menemukan Jasmin Jutting. Informasi berantai melalui facebook mudah-mudahan akhirnya akan sampai kepada Jasmin. Ibunya dan adiknya sangat merindukannya. Di penghujung usia Ibu Sumidah, beliau sangat ingin bertemu kembali dengan Sri Winarsih atau Jasmin Jutting atau siapapun namanya kini.

We really need everyone’s helping to find Jasmin Jütting. I hope that this information, which then will be spread through facebok or any other social networking device, will be able to reach Jasmin. Her mother and sister are missing her a lot. Sumidah deeply wants to meet Sri Winarsih or Jasmin Jütting.

Wir bitten sehr um die Hilfe von irgend Jemand ,die zufaellige weisse Jasmin kennt, uns ueber E- mail adresse, zu infomieren oder durch Facebook.
Durch ketten und hoch technologieshe Info. sind unsere Hoffnungen gelegt.
Die alte Mutter und alte Schwester von Jasmin, haben die Sehnsucht sie zu sehen.

Yang berkenan memberi informasi, mohon hubungi saya:

For those who have information regarding Jasmin Jütting, please do not hesitate to contact me:


Joko Suseno
Vila Dago Blok K No.69 Pamulang, Tangerang, Banten, Indonesia
HP: +62816811330
Rumah: +622174633728
e-mail: jokosuseno34@yahoo.com atau pakneestu@gmail.com atau joko_suseno@bca.co.id

blog: http://jurnaljokosuseno.blogspot.com/

Selasa, 21 Juli 2009

Mencari Miyanti


Perjalanan ke dusun Senden, desa Jambon, kecamatan Gemawang, Temanggung adalah perjalanan yang mengasyikkan. Iya, ada tugas dari LZT untuk menemukan Miyanti. Seorang ketua RW di dusun itu, Maryono, mengirim proposal bantuan dana pendidikan ke sekretariat LZT di perumahan Taman Royal, Tangerang.

Miyanti Rahayu, 15 tahun, anak pertama dari 3 bersaudara, anak pasangan Nariyono dan Irahayu, telah lulus dari SMP Muhamadiyah 5 Kandangan. Dengan NEM 33 koma sekian, dari 4 mata pelajaran, Miyanti memperoleh nilai 10 untuk pelajaran matematika. Mungkin bukan nilai yang fantastis untuk ukuran anak perkotaan, tetapi untuk anak dari pelosok pedesaan dengan perekonomian keluarga yang sangat jauh dari berkecukupan, nilai itu tentu saja menjadi istimewa.

Dengan berbekal SMS dari Ketua LZT, akhirnya rumah orang tua Miyanti berhasil kami temukan. Sungguh dari rumah yang sangat sederhana itu, lahir seorang anak berotak cerdas tentulah sangat membanggakan kedua orang tuanya. Namun menjadi menyedihkan dan memprihatinkan ketika untuk mendapatkan biaya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi ternyata mengalami banyak kendala. Bahkan untuk sekedar mengambil ijazah kelulusan dari SMP Muhammadiyah 5 sebesar Rp.200.000,- pun belum mampu.

Berbekal kunjungan itu dan dari hasil rapat pengurus secara on line, LZT setuju untuk membantu biaya pendaftaran sekolah di SMK Temanggung (STM Pertanian Maron, Temanggung) sebesar Rp.2.500.000,- Untuk biaya-biaya berikutnya (transportasi, SPP, dll) orang tua Miyanti berjanji untuk mengusahakan sendiri semaksimal mungkin. Dan akhirnya saat ini Miyanti Rahayu telah kembali sekolah.

Sekolah gratis? Tidak juga ya…
Sekolah, harus bisa. Insya Allah, yang ini mudah-mudahan benar.

Rabu, 17 Juni 2009

Pengakuan Gudam Garang


Namaku Gudam Garang. Panggil saja Gudam. Umurku 50 tahun lebih. Bisnisku membunuh. Ya, membunuh. Membunuh orang. Aku tidak sendirian. Jaringanku sangat luas. Istriku, Milda Soemparna, adalah partner utamaku. Mertuaku, Emha Soemparna, cukup lama mendidiknya untuk menguasai bisnis ini. Bisnis membunuh.

Di bisnis ini aku punya banyak pesaing yang sekaligus menjadi kolega. Sebut saja Djuram Koclat, Boentel Briu, dan Djoe Samsi. Mereka ini orang-orang lama yang sudah sangat menguasai medan. Bersama-sama kami membentuk kartel yang bisa menentukan bisnis ini. Ya, kartel. Karena dalam bisnis ini butuh banyak bahan baku untuk membuat racun yang disebut korok dari tanaman bernama mbetakau. Kamilah yang menentukan harga beli, kami juga yang menentukan mutu daun mbetakau ini. Semua kami yang menentukan. Petani, biarlah mereka menderita dengan mimpi dan harapan agar harga daun mbetakau bisa setinggi langit.

Meski bisnisku membunuh, namun tidak seorangpun pernah menuntutku. Semua birokrat sudah aku kuasai. Bupati, Gubernur, Menteri. Semua. Mereka semua teman-temanku. Mereka tidak akan pernah menggangguku. Bahkan presiden pun tidak akan. Tidak akan pernah. Di mata mereka aku adalah dermawan. Aku adalah pahlawan. Mau bikin even apa saja mereka akan mencariku. Liga sepak bola, basket, tinju atau apa sajalah. Semua kegiatan olah raga bisa aku sponsori. Orang selalu berfikir bahwa aku sangat berjasa dalam menyehatkan bangsa ini. Juga konser-konser besar. Pasti ada campur tanganku di situ. Paling tidak pasti ada kolegaku.

Tentang bisnisku, sesungguhnya ini memang keahlian turun temurun. Orangtuaku mengajariku meracik dan mengemas sedemikian rupa sehingga orang-orang akan menyukai racun yang aku buat itu. Tak lupa aku mesti pasang iklan sangat gencar. Besar-besaran. Bahkan untuk biaya iklan ini aku rela menghabiskan uang milyaran rupiah. Tidak masalah. Karena keuntungan sudah menunggu di depan mata. Tidak dalam tempo lama keuntungan yang akan aku raih bisa berpuluh-puluh kali lipat. Bahkan ribuan kali lipat. Dan orang-orang tidak pernah merasa bahwa secara pelan-pelan aku telah membunuh ayah mereka, saudara mereka, anak-anak mereka. Mereka tidak akan pernah menyadari, karena yang mereka tahu keluarga yang sakit dan kemudian meninggal itu hanya karena sakit jantung, paru-paru, atau kanker. Mereka tidak pernah tahu akulah yang telah meracuni mereka.

Bahkan dari bisnis membunuh orang pun aku bisa menjadi orang kaya. Saat ini aku dan Djuram masih menjadi orang terkaya di negeri ini. Sementara di mata orang-orang, aku adalah pahlawan yang sangat berjasa memakmurkan negeri ini. Sesungguhnyalah aku adalah pembunuh berdarah dingin.

Namaku Gudam. Ya, aku Gudam Garang. Aku si pembunuh itu.

Namaku Don

Aku lahir sekitar 45 tahun lalu di sebuah desa di Tembarak. Tidak perlu aku sebutkan nama desaku. Tidak terlalu penting. Sebut saja aku Don, itu lebih penting Lengkapnya Sudono bin Juanto.

Bapakku lurah. Kakekku juga. Walaupun orang-orang di kota yang suka sok membuat aturan maunya menyebut Bapakku sebagai kepala desa, tetapi semua warga desa menyebut Bapakku dengan Pak Lurah. Jadi Bapakku adalah Pak Lurah untuk warganya. Persetan dengan peraturan orang-orang kota itu.

Namaku Don. Panggil saja aku begitu.
Sebenarnya namaku panjang, Sudhono Wisnu Murti Bayu Kartiko Aji bin Juanto. Tidak penting. Setidaknya buatku. Dari kecil orang tua dan teman-temanku memanggilku Dhono atau Dhon. Aku lebih suka menulisnya Don. Teman kecilku banyak. Dari dulu aku selalu menjadi pemimpin. Bahkan anak-anak yang lebih tua pun selalu menurut, juga yang sebaya, apalagi yang lebih muda. Pendeknya aku mau pergi kemana atau mau main apa, mereka semua pasti mengikuti. Makanya beberapa orangtua menganggapku sebagai pemimpin anak nakal. Ah, aku tidak peduli.

Namaku Don. Aku si bintang kelas.
Dari SD, SMP, hingga SMA aku selalu menjadi bintang kelas. Hanya ketika di SMA aku sedikit kesulitan. Aku punya masalah dengan rasa percaya diriku. Aku sangat minder.
Aku sekolah di SMA paling faforit di Temanggung, dan ternyata aku mati gaya. Pada awal sekolah, aku sering menjadi bahan tertawaan teman-teman sekolahku karena tidak bisa menyesuaikan dengan gaya dan kehidupan kota. Aku menjadi terganggu. Dan ini sangat membebaniku.

Namaku Don. Aku jatuh cinta.
Di tahun terakhir sekolahku di SMA, ada anak kelas satu yang cantik sekali. Namanya Diah. Ternyata dia anak bupati. Aduh, kenapa aku jatuh cinta. Walau Bapakku orang yang paling terpandang di desaku, tapi anak bupati... ah, bermimpi pun tidak berani. Aku tidak pernah berani menyapanya, hanya curi-curi pandang setiap ada kesempatan. Aku hanya bisa jatuh cinta dari jauh. Ya, hanya dari jauh. Dan aku frustasi.

Namaku Don. Aku pergi merantau.
Setamat SMA aku ke Jakarta. Aku ikut kakak sepupu. Aku bisa bekerja dengan ijazah SMA-ku. Yah kerja apa sajalah, di bagian administrasi. Selang beberapa waktu aku bisa kuliah. Aku memang sangat ingin bisa kulaih. Lalu aku mulai tinggal sendiri. Di kantor ini aku jatuh cinta dengan Wulan, orang baru. Lalu aku menikah. Aku pindah kerja.

Namaku Don. Si kutu loncat.
Pindah dari satu pekerjaan yang satu ke pekerjaan lain ternyata membuatku merasa semakin tertantang. Aku menjadi semakin percaya diri. Bahkan aku berhasil menyelesaikan masterku. Dan kini anakku sudah tiga, itu yang dari Wulan. Sekarang aku sudah kandidat doktor.

Namaku Don. Aku di puncak karier.
Sekarang aku pejabat tinggi di sebuah bank terkemuka. Tidak penting nama banknya. Wauw, aku semakin percaya diri. Aku juga semakin leluasa bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Kemanapun aku mau. Semua dengan biaya kantor. Sangat gampang buatku untuk mengatur perjalanan dinas kemanapun, kapanpun. Ah, alasan bisa dicari. Sekretarisku akan mengatur semua itu. Begini mudahnya ternyata.

Namaku Don. Aku si playboy.
Pacarku banyak. Yang masih single maupun istri orang. Siapa peduli. Istri simpanan juga ada beberapa. Mungkin anakku juga banyak. Namun istri sahku tetap Wulan. Hanya Wulan. Tapi aku pintar mengelola itu semua. Soal ini aku jagonya. Tidak akan ada satupun dari mereka akan menelponku atau mendatangi rumahku yang di Pondok Indah pada hari sabtu atau minggu. Tidak akan pernah, dalam kondisi apapun. Terlebih pacar-pacarku yang tinggalnya di Medan, Denpasar, Menado, Singapore, atau Malaysia. Ini pekerjaan gampang. Sangat gampang.

Namaku Don. Calon Bupati Temanggung.
Aku butuh pengakuan baru. Aku akan mencalonkan diri menjadi bupati Temanggung. Dan untuk itu semua, sudah kuatur dan aku persiapkan dengan sangat rapi. Seorang teman, perwira menengah di Mabes Polri sudah bersedia menjadi wakilku. Aku juga sangat dekat dengan beberapa pengurus partai dari pusat dampai daerah. Orang-orang di Kejaksaan Agung, Mabes TNI, Mabes Polri, sudah aku dekati. Juga beberapa pejabat penting di Temanggung. Semua aman. Beberapa LSM juga sudah sangat tergantung dengan bantuan dana dariku. Aku sudah siapkan uang lima milyar. Sudah aku pelajari juga pengalaman bupati-bupati sebelumnya. Aku tidak mau tergelincir seperti Totok. Jadi semua pihak harus dibelakangku. Kejaksaan, Polisi, DPRD, LSM atau siapapun mesti tunduk dengan kemauanku. Dan uang, buatku, berapapun tidak menjadi masalah.

Namaku Don. Sudono bin Juanto. Sebut saja aku Don Juan.

Cik Lan dan Yu Tinuk

Pagi itu Cik Lan terlihat gelisah. Sebentar-sebentar pandangannya dilemparkan jauh ke sudut jalan. Sesekali dia keluar, di trotoar dia pandangi lama arah alun-alun, lalu berbalik ke arah pasar. Sepertinya belum ditemukan yang dia cari. Sedikit bergeser dia pandangi arah terminal lama. Nihil. Ke arah Sayangan, nihil juga. Dia masuk lagi. Begitu berulang-ulang.
Koh Tiong, suaminya, bukan tidak tahu dengan tingkah laku istrinya. Dia pura-pura asyik baca koran. "Papi, memang Papi ndak liak Yu Tinuk. Apa dia ndak jualan lagi ya. Piye ini....?"
Suaminya bergeming. Dia maklum. Apapun jawabannya, pasti istrinya akan bicara lebih panjang lagi.
"Masak sih Papi da situ dari tadi kok isa ndak liak? Papi ini memang kebangeten tenan kok. Mami sudah tiga hari ndak ngerasakke nasi jagunge Yu Tinuk. Sudah kangen sama pecel, peyek, sama tempe baceme Yu Tinuk...."
"Mi, mBak Yah kan sudah masak dari subuh tadi to. Lengkap. Opor ayam senengane Mami juga ada. Wis, Mami sarapan wae sana...."
Cik Lan cemberut, tapi akhirnya dia turut juga kata-kata suaminya.
Sementara itu Tinuk baru selesai menyiapkan dagangannya. Tiga hari kemarin memang dia tidak berjualan. Mas Jono, begitu dia memanggil suaminya, sakit. Begitu Jono sudah terlihat agak sembuh, Tinuk memberanikan diri jualan lagi.
"nDoro Yuk, peceeeeeeeeeel". Teriakan Tinuk mengagetkan Cik Lan yang baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Buru-buru dia lari ke depan.
"Eeeeeeeeeee, kemana wae to kok ndak ketok-ketok. Tiga hari aku nyari situ. Sampai mumet aku, saking ndak isa nahan kepingin nasi jagung. Wis ayo bawa ke dalam wae. Itu Papine juga wis kangen tapi ethok-ethok ndak pengin."
Tinuk bergegas masuk dengan bawaannya. Di ruang tengah yang cukup luas terdapat meja ping pong di tengah ruangan. Koh Tiong sedang asyik membaca koran di salah satu sisi meja.
"Eee, nDoro Yuk lanang, nuwun sewu ya. Ini saya sudah jualan lagi. Mau pecelnya ndak?" seru Tinuk.
"Kemana saja Yu, kok ndak ketok-ketok. Itu Mamine Sian Lie wis koyo orang linglung wae nyari situ."
"Iya, saya nggak jualan tiga hari. Bapakne mriang. Masuk angin. Enggak tegel saya ninggal sendiri. Ya ini kesiangan karena harus ngopeni Bapakne dulu."
“Ooooo, sama. Si Robby, adike Sian Lie wingi juga begitu. Sama Mamine dah dikasih obat sama vitamin. Katane dokter kena radang tenggorokan. Infeksi saluran pernapasan. nDak masuk sekolah dua hari. Memang sekarang ini lagi musime kok Yu. Wis ndak pa pa. Wis dibawa ke dokter belum?”
“Lha wong diajak ke Puskesmas Bapakne itu nggak mau kok. Minta dikerok. Yo wis, tak kerok wae. Ini pecele seperti biasane to..??”
“Iya Yu... Aku ki juga ndak habis pikir, lha wong Mamine itu njagani anak-anak ya tenanan lho. Pulang pergi sekolah yo sama Slamet. Mestine ya ndak kena debu. Lha ndek sekolahan itu lingkungane bersih. Kantine bersih. Kok ya isa sakit. Sambele jangan akeh-akeh Yu... Gek rada ndak enak perute..”
“Nek Bapakne itu ketoke kekeselen kok. Lha piye, sekarang apa-apa mahal. Mau masukke sing mbarep ke SMP biayane banyak banget. Ya terpaksa Bapakne nariknya lembur saben hari. Belum biaya adik-adike itu. Saya sudah ngrewangi begini ya mangsih kurang. Untunge anake saya itu bisa ngerti orang tua. Nggak macem-macem. Sekolahe ya rajin. Malah kemarin dia bilang gurune lagi ngajukan bea siswa. Wah jan seneng banget saya... Peyeke tinggal ini lho ya. Meh disambeli nggak..? ”
“nDak usah yu. Itu Mamine sing seneng bacem.”
“Iya Yu. Nasi jagunge jangan akeh-akeh. Ndak usah pakai sambel sik. Apa dikasih sedikit wae. Lagi musim sakit je. Lha itu Mamine Benny bar ngebel katane si Benny juga sakit. Ngerti Benny to Yu..? Itu lho sing da rumahe ada parabolane gede itu lho.. Cepake Saudara itu lho.. Wis sambele segitu wae. Tempe mbek tahu baceme dimasukke rantang sini wae. Nanti mulih sekolah Sian Lie rak mesti seneng banget. Bungkuske nasi jagung komplit satu Yu. Ben nanti dikasihke Slamet. Mbak Yah..., ini nasi jagung nanti tolong dikasihke Slamet ya.. Wis semua Yu. Dietung sik. Ini uange..”
Sepeninggalan Tinuk, Cik Lan segera membongkar nasi Jagung.
“Lho Mami kan habis sarapan. Apa ya ndak kewaregen? Lha wong Papi wae yang belum sarapan malah ndak disiapke..”
“Lha ini meh nyiapke gawe Papi to. Sisan tak temeni. Lha wong sudah kangen tenan sama nasi jagunge je Pi... Ndak pa pa kan yah segini sarapane sudah dua kali..”
“Si Robby mbesuk bisa masuk sekolah to? Nek ndak masuk apa ya ndak ketinggalan pelajaran akeh..?”
“Anakmu sing satu itu memang hebat kok. Ben dia ndak masuk tetap ajar terus. Mbaca terus saben hari.”
“bersyukur ya Mi kita diberi rejeki lebih. Orang-orang seperti Yu Tinuk itu masih akeh lho Mi.”
Cik Lan hanya mengangguk dan tersenyum. Hari itu dia mendapati dua hal, nasi jagungnya terpenuhi dan pelajaran tentang rasa syukur. Yu Tinuk..Yu Tinuk...batinnya sambil geleng-geleng kepala. Entah apa lagi yang ada dibenaknya.

Suradal telah mati

(Berdasar kisah nyata dengan nama tokoh dan tempat kejadian disamarkan)

Pagi-pagi buta seisi kampung gempar. “Suradal mati.” “Suradar modar”. “Suradal dut”. “Suradal moik” “Suradal mampus...” Berita matinya Suradal begitu cepat menyebar bahkan lebih cepat dari hembusan angin. Dari cara mereka menyampaikan berita ini, terlihat sekali bahwa ada kesan senang pada wajah mereka.

Suradal. Ya, nama ini sudah lama sekali menjadi pembicaraan orang sekampung. Bahkan hampir sekecamatan. Siapakah Suradal?

Suradal adalah preman. Walaupun tidak ada yang berani menyebutnya demikian, tetapi sesungguhnya Suradal adalah preman. Dia mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak sah. Di luar itu tidak ada yang tahu berapa dia mempunyai selingkuhan dan anak-anak haramnya. Semua bagaikan telah diatur rapi oleh Suradal walaupun sebenarnya banyak orang yang sudah tahu. Bahkan semua orang sudah tahu.

Sepertinya kejadian kematian Suradal pagi itu membuat orang bisa bebas lepas membuka semua aib Suradal. Termasuk cerita Suradal di kampung itu. Bahwa Suradal punya seorang anak buah, Tukijo, yang seolah-olah menikah resmi dengan seorang gadis kampung, Onarwati. Onar, begitu dia dipanggil, tinggal serumah dengan orangtuanya dan suami pura-puranya ini. Dan pada malam-malam tertentu Suradal akan menyambangi istri anak buahnya ini untuk berbagi jatah. Begitu juga cerita serupa di beberapa kampung lain.

Jangan tanya soal uang. Suradal punya banyak uang. Dengan sekian banyak anak buahnya, dia menguasai pasar kecamatan, tukang-tukang ojek, sopir angkutan kota, dan pedagang pasar kecamatan. Semua sudah diatur rapi. Bahkan Suradal punya banyak koneksi dengan pejabat pemerintahan maupun keamanan. Jadi jangan berpikir untuk lapor, karena justru akan mendapat masalah baru.

Kematian Suradal adalah berkah buat banyak orang. Kematian Suradal telah mengingatkan orang-orang bahwa selama ini mereka telah menutupi aib di depan hidung mereka sendiri. Aib mereka sendiri.