DUKA PAK ABDURAHMAN SI PENJUAL KORAN

Sahabatku...sekali waktu, cobalah kita perhatikan tubuh kita yg terlihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, betapa sempurnanya Allah menciptakan kita. Andai salah satu saja bagian tubuh kita tidak ada, betapa rumitnya hidup yang akan kita hadapi kendati pun kita tetap mampu bertahan hidup tanpa salah satu bagian tubuh kita. Bersyukur kita yang diberi anugerah oleb Allah dengan anggota badan yang lengkap. Bersyukur kita yang diberi Allah dengan rizki lebih. Bersyukur kita kepada Allh yang memberi pekerjaan yang baik. Tapi tidak untuk Pak Abdurahman. Segala keterbatasan telah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, akibat dari kanker yang dideritanya beliau harus rela kehilangan hidung. Penghasilannya sebagai seorang penjual koran di pompa bensin di daerah Kasablanka, Jakarta Selatan hanya cukup untuk sekedar makan sehari-hari. Namun demikian, dengan segala keterbatasannya itu tidak menjadikan Pak Abdurahman mempunyai niat untuk menjadi pengemis atau peminta-minta. Tidak.! Baginya bekerja adalah wajib hukumnya. Tak peduli berapapun riski yang didapatkan. Bersyukur karena ia sering mendapatkan uang lebih dari mereka yang membeli koran dan merelakan uang kembalian. Namun begitu menjelang lebaran ini Pak Abdurahman berharap dapat membelikan baju baru dan ketupat lebaran buat keluarganya. Syukur-syukur ada uang lebih untuk ia bisa kembali berobat. Hidungnya yang sumbing dan hanya ditutup dengan plester membuat orang menjadi tidak tega untuk memandangnya. Sahabat..yuk lakukan kabaikan meskipun orang lain tak membalasnya dengan hal serupa. Kita niatkan segala kabaikan hanya untuk menggapai ridho Allah semata. Untuk sahabat yang Allah lebihkan rezekinya, silakan bila ingin membantu bisa transfer melalu rekening milik pengelola Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah No. 035-611 2622 atas nama Eko Supriyanto. Dalam salah satu foto Pak Abdurahman berdampingan dengan Sdr. Arief Fauzi (Benzo), salah seorang aktifis di komunitas Pengajian Al`Quran Learning Musholla BCA UBKK Wisma Pondok Indah, Jakarta Selatan. Contact Person: 0816811330 (joko) atau 08990773322 (eko) MULIA KITA DENGAN MEMBERI, ABADIKAN HARTA KITA DENGAN SEDEKAH, TAK AKAN JATUH MISKIN ORANG YANG BERSEDEKAH, DAN TAK AKAN TAMBAH KAYA ORANG YANG MENAHAN HARTANYA RAMADHAN, SAATNYA MENGUMPULKAN BEKAL BUKAN MENAMBAH BEBAN, AYO KITA BORONG SELURUH AMAL SHOLEH DI BULAN MULIA INI Sekecil apapun bantuan Anda sangat berarti buat pak Abdurahman, semoga kerelaan Anda akan meringankan beban penderitaanNya

Kamis, 19 Maret 2009

Bento


BENTO
(Lagu ini sekarang menjadi favoritnya anakku, Dinda, alias Ade Ntes. Kalo kakaknya tahu, Estu Kresnha, dia juga pasti akan suka).

Namaku Bento
Rumah real estate
Mobilku banyak
Harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutif
Tokoh papan atas
Atas sgalanya..asyik

Wajahku ganteng
Banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal
Jagal apa saja
Yang penting aku senang
Aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik

Kotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobying dan upeti wow jagonya
Maling kelas teri bandit kelas coro itu kan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang pada ku
Sebut tiga kali namaku bento bento bento
Asyik

Pagi Yang Indah


Pagi ini aku terbangun karena alarm dari hp mamanya estu. Bersamaan dengan terdengarnya suara Pak Nur Rohim mengumandangkan adzan subuh dari masjid Jabal al Rahmah. Bergegas kami bangun. Mamanya Estu ambil air wudlu duluan. Setelah dia kenakan atasan mukena dan aku pake sarung, baju koko, dan peci segera kami melangkah keluar.

Udara segar dingin menerpa muka sejuk terasa. Subhanallah. Di atas sana bintang gemintang bertebaran. Sambil jalan aku terus menatap ke atas. Terlintas dibenakku rasi-rasi bintang yang pernah diajarkan guruku dahulu. Ah, tidak satupun yang aku ingat bentuknya. Tapi semua sungguh terlihat indah.

Aku berjalan bergegas. Lebih cepat. Mamanya Estu tertinggal di belakang. Terlambat nih. Sampai di masjid, Pak Nur sudah menyalakan mik pertanda akan iqomat. Ya sudah, sholat sunah tahiyatul masjid dan kobiyah subuh terlewat. Padahal sholat fajar itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Masya Allah.

Selesai sholat mamanya Estu sudah berjalan beriring dengan Mak Wo dan Bu Profesor. Aku salip mereka. Hanya Mak Wo dan mamanya, karena Bu Profesor sudah sampai rumahnya. Di depan pos satpam aku ajak mamanya jalan-jalan. Sepulang dari rumah sakit setelah 8 hari di rawat, dokter menyarankan agar mamanya berolah raga. Pilihannya adalah jalan kaki dan berenang. OK, mamanya setuju untuk jalan kaki sampai sekolah Estu. Eh maksudku sekolah Dinda, Al Zahra. Rupanya Mak Wo, si mamanya David dan Fani ini, pengen ikut juga.

Kami bertiga jalan. Aku di depan, jalan agak cepat. Satu dua mobil mulai lewat. Juga beberapa motor. Mereka adalah para pekerja yang berburu dengan waktu untuk sampai kantor pagi-pagi. Wah, sepagi ini sudah berangkat kantor? Mamanya Estu terheran-heran.. Itulah pada sub urban.

Jarak tempuh sekitar 800 meter tidak membuatku berkeringat. Si mamanya mau nyambung sampai ujung jalan buntu. Aku masuk duluan, setelah mamanya nitip sajadah dan bawahan mukena.

Ku nyalakan tv. Seperti biasa, berita reportase pagi di transtv. Aku nyalakan komputer. Baru saja duduk mamanya estu sudah masuk rumah. Ah cepat amat. Kita ngobrol sebentar tentang kenapa aku semalem pulang cukup malam.

Aku buka e-mail. Buka facebook. Buka blog. Ah tidak ada mood. Hanya sempat menulis sedikit. Mamanya sudah selesai mandi.

Ya sudah, matikan komputer, terus mandi. Subhanallah, ini memang pagi yang indah.

Rumahku Hijau, Dunia Hijau







Kuawali dari rumahku sendiri..
Beberapa pohon kutanam di depan rumah. Tanah yang tidak seberapa luas. Bahkan bisa dibilang cukup sempit. Tidak apa. Setidaknya saya bisa tanam lengkeng, 2 pohon mangga, dan jambu air. Di dalam pot saya tanam juga pohon sawo, 3 pohon rambutan, dan anggur.

Pohon lengkeng dan mangga sudah cukup besar. Rumahku jadi rindang. Panas matahari yang menyengat tak berasa. Kini telah menjadi lebih sejuk. Lengkeng saat ini sedang berbunga. Mudah-mudah akan menjadi buah. Mangga bahkan sudah dua kali berbuah. Wow, rumah yang nyaman.

Sabtu, 14 Maret 2009

Alkisah 3 Masjid







Alkisah tentang 3 buah masjid yang ada di suatu komplek perumahan. Ketiga masjid itu, mari kita sebut saja Ar Rahmah, An Nur, dan Al Jannah.

Banyak kesamaan ketiganya, di antaranya semua dibangun dengan swadaya umat, ketiganya terletak di satu komplek perumahan yang sama, ketiganya berada di klaster dan sangat dekat dengan rumah warga. Masing-masing masjid terletak di klaster 1, 2, dan 3.

Yang membedakan ketiganya barangkali hanyalah suasananya. Masjid 1 dan 2, boleh juga kita sebut saja begitu, sangat dekat dengan alam. Kedua masjid ini terbuka. Dengan pepohonan yang mengelilingi, maka berada di dalam masjid akan berasa adem. Sejuk. Juga terang benderang. Tidak dibutuhkan tambahan cahaya lampu pada siang hari.

Itulah yang membedakan dengan masjid 3. Masjid ini tertutup rapat. Bahkan sangat rapat. Walaupun sama-sama dikelilingi dengan pepohonan, bahkan dibandingkan dengan masjid 1 dan 2, pepohonannya jauh lebih rimbun, tetapi berada di dalam masjid ini akan merasa panas dan pengap. Dibutuhkan 5 unit pendingin ruangan agar masjid terasa sejuk. Dibutuhkan sekian banyak lampu agar masjid ini terlihat terang. Bisa dibayangkan, dibutuhkan biaya mahal untuk membayar biaya listrik. Maka dana zakat, infaq dan sadaqah akan lebih banyak dibayarkan ke PLN daripada ke anak yatim atau fakir miskin.

Bahkan untuk sholat subuh pun, di mana udara pagi masih sangat dingin, kelima AC harus menyala agar di dalam masjid tidak panas.

Memang beginikah seharusnya sebuah masjid di jaman modern ini? Mungkin ini tuntutan modernitas supaya umat yang di rumah masing-masing sudah terbiasa dengan pendingin ruangan akan betah dan datang lagi datang lagi ke masjid? Bisa jadi.

Saya pernah berandai-andai. Andai Baginda Nabi menyaksikan ketiga masjid ini, saya sangat yakin beliau tidak akan mau lagi sholat di masjid yang ber-AC ini.

Wallohu a'lam bishawab.

Kamis, 12 Maret 2009

Bakmi Mas Pong
















Pernah dengar nama Bakmi Mas Pong? Pernah menikmati lezatnya mi goreng atau mi rebusnya?
Kalau belum, cobalah. Insya Allah tidak akan menyesal.
Menu yang tersedia memang hanya bakmi jawa goreng dan bakmi rebus. Menu tambahannya hanya wedang ronde. Tapi dua pilihan itu saja cukup. Yummy banget deh..
Lokasinya ada di jalan raya Pondok Cabe, Ciputat, Tangerang. Tidak jauh dari lapangan terbang Pondok Cabe. Sekitar 100 meter dari KFC atau supermarket Superindo yang ada di jalan raya Pondok Cabe.
Nama Mas Pong adalah juru masaknya. Ada Mas Pong, maka sudah cukup itu menjadi jaminan kelezatan. Bahkan anak saya, Estu Kresnha, yang sekolah di NFBS (mondok di asrama di Anyer) sering kali pesen minta dibawakan mie Mas Pong.
Sayang, bukanya hanya sore sampai malam hari. Hari Selasa libur.

Mama Sakit Lagi


Subhanallah...
Ada berjuta cara Allah untuk menguji iman umat-Nya. Salah satunya dengan mendatangkan sakit. Seperti yang dialami oleh mamanya anak-anak, istriku.
Setelah lebih dari seminggu pusing-pusing dan batuk-batuk, hari Selasa minggu lalu dia muntah-muntah. Malamnya demam sampai pagi. Sementara saya sendiri juga sedang kena flu.
Paginya saya antar ia ke rumah sakit agar bisa diperiksa lebih intensif. Sampai UGD langsung diantar ke poli internis. Ada dokter Leo dengan antrean panjang, dan dokter Femmy dengan 2 orang pasien. Akhirnya kami pilih dokter Femmy.
Singkat cerita, akhirnya mama mesti mondok, dirawat. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, positif paratipes. Tapi mengingat sampai hari kelima, demam dan pusingnya tidak kunjung hilang, dokter Suhendro, dokter yang kami minta menggantikan dokter Femmy, mengkonsultasikan hal itu ke doter syaraf dan dokter rematologi.
Alhamdulillah, kemarin si mama sudah boleh pulang. Istirahat di rumah.
Sesungguhnya ini memang salah satu cara Allah menunjukkan rasa cintanya. Semoga kami menjadi lebih dekat. Menjadi semakin dekat. Insya Allah.

Senin, 02 Maret 2009

Alhamdulillah, rematik sembuh berkat terapi SEFT


Begini, saya menderita sakit rematik. Penderitaan yang sudah saya alami selama beberapa tahun. Saya sudah menjadi pasien beberapa dokter ahli. Kalau saya sebut nama mereka, bukan karena bermaksud untuk meragukan kemampuan atau keahlian beliau-beliau itu pada bidangnya. Sekedar ingin menjelaskan bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin dari sisi medis. Dokter-dokter itu antara lain: dr. Cecilia Padang, PhD (ahli rematik di Klinik Rematik Tebet), dr. Bambang Setyohadi, SPd (ahli rematik di RS Pondok Indah), Prof. dr. Karmel L. Tambunan, SpPD (ahli darah di RS PGI Cikini). Dari para dokter itu saya di vonis menderita rematik dan terkait dengan tingkat kekentalan darah (darah terlalu kental). (Pada kesempatan lain saya juga berobat ke dokter syaraf untuk kondisi sakit di pinggang kanan saya, yang saya pikir bisa jadi berkaitan dengan sakit rematik saya).

Sakit yang saya rasakan adalah pada semua persendian kaki. Yang paling sering adalah sendi kaki atas (pinggul), kemudian lutut, dan tungkai (engkel). Apabila rematik ini kambuh maka ngilu luar biasa pada sendi-sendi terebut. Saking sakitnya bahkan kadang-kadang tidak sanggup untuk berjalan, atau bisa berjalan tetapi dengan terseok-seok. Akibatnya harus dibantu dengan obat penghilang rasa sakit. Dan ketergantungan kepada obat ini sudah berada pada tingkat tinggi. Tidak bisa lagi meninggalkan obat.

Di samping rasa sakit pada persendian, kadang-kadang juga muncul benjolan di betis berwarna ungu kemerahan, seperti halnya memar bila terbentur suatu benda keras. Bila disentuh bagian itu, rasa sakitnya pun sama seperti luka memar. Sayangnya sakit rematik ini sulit diukur dengan pemeriksaan secara laboratorium. Tidak bisa jelas terbaca seperti mengukur SGOT, SGPT, Kolesterol, Asam Urat dan sebagainya. Hasil foto rontgen juga tidak terlihat kondisi yang aneh. Kesimpulan akhir yang saya terima dari kedua ahli rematik di atas adalah saya harus mengkonsumsi obat penghilang sakit dan beberapa obat lain secara terus menerus karena sakit ini akan permanent.

Di samping pengobatan medis, sebagai bagian dari ikhtiar saya adalah berobat ke beberapa pengobatan alternatif. Sekedar menyebut saja, saya pernah beberapa kali melakukan terapi tusuk jarum (akupuntur), pijat refleksi, totok darah, bekam, sinse dan lain-lain. Saya tidak berputus asa, tetapi hasilnya memang belum seperti yang saya harapkan.

Suatu hari Pak Kun, yang adalah ketua RT di perumahan saya, yang memang sering melihat cara berjalan saya yang terpincang-pincang, menawari saya untuk membaca buku SEFT milik beliau dan mencoba mempraktekkannya. Saya coba. Tidak ada efek apa-apa. Begitupun ketika Pak Rey, Sekeretaris RT, yang pernah belajar cara terapi SEFT membantu saya, juga tidak begitu terasa ada perubahan. Waktu itu saya pernah mencoba mempraktekkan kepada satu-dua teman kantor. Ada yang merasakan kemajuan, walau tidak seberapa.

Pada hari Minggu, tanggal 1 Februari 2009, di Masjid Jabal al Rahmah, kompleks Perumahan Vila Dago, Pamulang, hadir Bapak Ahmad Faiz Zainudin pada rangkaian kegiatan seminar (ada beberapa tokoh yang diundang) untuk menyambut tahun baru 1430 Hijriyah. Beliau adalah orang yang mendalami terapi EFT (Emotional Freedom Technique) langsung dari sumbernya dan mengembangkannya menjadi terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Pada kesempatan tersebut Pak Faiz mempresentasikan metode pengobatan SEFT ini lengkap dengan pendapat beberapa pakar kesehatan luar negeri melalui rekaman video. Juga diperlihatkan video penyembuhan sekitar 1400 anak-anak sekolah yang telah kecanduan rokok dengan cara terapi masal.

Pada akhir sesi pengunjung seminar dibimbing untuk dapat melakukan terapi SEFT ini secara mandiri. Termasuk saya tentu saja. Sebelum terapi dimulai, peserta diminta untuk mengukur, dengan skala 1-10, kira-kira sedang merasakan sakitnya level berapa (sakit atau perasaan emosional apapun). Begitulah. Selesai acara terapi, saya merasakan ada kemajuan. Berkurang rasa sakit saya. Sahabat, untuk diketahui, walaupun saat itu saya masih mengkonsumsi obat penghilang sakit, tetapi rasa sakit tidak hilang 100%.

Dengan hasil itu saya menjadi lebih antusias. Di rumah saya coba lagi. Ternyata lebih baik lagi. Saya coba pada istri saya. Juga anak-anak saya. Alhamdulillah, berhasil.

Pada hari Selasa, 3 Februari 2009 (2 hari setelah berlatih SEFT), saya mendapat tugas training di Puncak selama 4 hari. Persediaan obat tinggal tersisa untuk 1 hari. Istri saya sudah menawarkan untuk menebus obat 1 paket (resep lanjutan/iter bisa untuk 20 hari). Saya bilang tidak usah. Saya akan coba SEFT ini saja. Namun sekedar untuk jaga-jaga, saya tetap bawa copy resep ke lokasi training.

Alhamdulillah, sejak saat itu hingga hari ini, saya belum pernah lagi minum obat-obatan rematik itu lagi (a/l: celebrex, ometrazone, aspilet/aspirin, dll), yang sebelumnya harus saya minum rutin setiap hari. Bahkan untuk kondisi sangat sakit, harus saya minum sehari 2 kali.

Sahabat, saya mungkin belum sembuh total. Mungkin juga masih ada kemungkinan untuk kambuh lagi. Saya tidak pernah akan tahu. Tetapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah saya merasakan bahwa terapi SEFT ini memberi banyak buat saya dan keluarga saya. Termasuk pada istri saya yang menurut dokter menderita syaraf terjepit (HNP) pada pinggangnya, saya bantu dengan SEFT ini dia merasakan sakitnya berkurang drastis. Sekarang setiap kali saya merasakan sakit di kaki, atau pada bagian tubuh manapun, saya akan terlebih dulu mencoba SEFT ini.

Kamis, 26 Februari 2009

Thank You ALLAH







a Nasyid by RAIHAN

The sky is clear
The air is clean
The land is green
Thank You Allah
Thank You Allah
The path we walk
The lines we talk
The things we see
Thank you Allah
Thank you Allah

Say Thank you Allah
Thank you Allah

When I sleep
When I eat
When I breath
Thank you Allah
Thank you Allah

Say Thank you Allah
Thank you Allah

In the night or in the day
Every morning after pray
I'll never forget to say thank you

There are times when I'm alone
Feel alright or not so strong
I'll pray to You and say
Thank you Allah
Thank you Allah

So frinds everytime remember
Allah The Most Merciful Say
Thank you Allah
Thank you Allah

Selasa, 24 Februari 2009

Mulutmu Harimaumu







Ada beberapa peribahasa yang bisa kita gunakan menyangkut bagaimana kita semestinya menjaga lisan kita. Salah satunya adalah “mulutmu harimaumu”. Kira-kira artinya, kita bisa binasa gara-gara ucapan kita sendiri.

Imam Bukhari meriwayatkan 2 hadist Nabi yaitu:
“Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah berkata (yang) baik. Atau, lebih baik diam.”"Orang yang disebut Muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya (dari menyakiti Muslim lain)."Al Qur’an surat Al Qalam [68]: 10-11) berbunyi, "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi menghina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah".
Lisan atau lidah laksana pedang. Bahkan bisa lebih tajam dari pedang. Lisan juga seringkali menjadi alat ukur kredibilitas. Seseorang yang sering berkata dusta, tidak konsisten dengan ucapannya sendiri, atau orang jawa bilang mencla-mencle akan menurunkan tingkat kepercayaan orang lain kepadanya.

Terlebih lagi kalau ucapan tidak konsisten itu menjadi kebiasaan, terlebih kepada orang-orang terdekat, bisa saja akan menjadi luka yang menganga yang sulit disembuhkan.

Jadi, berkatalah yang baik (dan benar), atau lebih baik diam.


Klik juga blog di bawah ini:

http://www.mail-archive.com/proletar@yahoogroups.com/msg37128.html

atau

http://r4d1.multiply.com/journal/item/3

Kamis, 19 Februari 2009

Ada cacing di kaki anakku




Ini benar-benar terjadi dan kami hadapi sendiri.

Anak kami, Estu Kresnha, menderita gatal2 pada betisnya. Awalnya hanya searea kecil (pada bagian atas, ditunjuk dengan jari oleh dokter, dgn panjang sekitar 3 cm).

Pada kunjungan pertama ke asrama NFBS, minggu ketiga bulan Januari 2009, anak kami sudah mengeluhkan gatal2 ini. Tetapi kami pikir bisa diatasi di klinik, kami sarankan dia untuk minta ijin Ustadz agar berobat ke klinik saja.

Ternyata keluhannya makin serius. Makin gatal, panas, dan meluas. Minggu berikutnya kami ijin untuk membawanya ke dokter kulit. Dokter bilang ada larva di bawah kulit. Oleh dokter kulit disemprot dengan cairan klor etil (namanya mirip2 begitu deh). Rasanya ekstrim dingin. Tiga hari berselang tidak kunjung membaik. Kami bawa ke sana lagi, dan disemprot lagi dgn klor etil dgn jumlah lebih banyak. Jadinya kulit Estu terlihat gosong (tiga gambar terakhir).

Istri saya berinisiatif ke dokter senior perusahaan, dan dirujuk ke dokter parasitologi. Adanya di RS Sumber Waras dan RSCM. Istri saya memilih RSCM dan Jum’at minggu lalu mereka ketemu dgn dr. Agnes. Dokter ini bilang bukan larva tetapi cacing. Ada beberapa kasus serupa yg pernah dia tangani. Cukup diobati, tidak perlu dibedah (disayat). Juga diperiksa facesnya untuk memastikan binatang apa gerangan.

Pagi ini kami lihat masih terlihat bilur-bilur merah yg terlihat masih aktif, cuma dgn area yg sudah mengecil. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ternyata yang semula kami kuatirkan sulit sembuh, Alhamdulillah, akhirnya sembuh juga.

Selasa, 17 Februari 2009

Tuhan sangat tidak adil




Perlahan-lahan kapal itu akhirnya tenggelam sempurna. Tinggal gelembung-gelembung udara yang nampak samar di permukaan samudera luas itu. Yusuf selamat berkat kesigapannya menyambar alat pelampung. Sementara belasan kawannya terjebak di dalam kapal dan ikut tenggelam ke dasar samudera.

Tinggalah Yusuf terombang-ambing di tengah samudera di antara barang-barang yang terlempar dari kapal dan kini mengambang menjadi sampah tak berguna. Lautan kini lebih tenang setelah beberapa saat lalu tiba-tiba muncul badai dahsyat disertai kilat menyambar-nyambar dan ombak tinggi dan ganas luar biasa. Hanya dalam hitungan menit semua berubah. Yusuf kini sendirian di tengah malam gelap gulita. Tidak nampak satu pun bintang yang bisa memberi sedikit cahaya. Gelap hitam pekat. Hanya semangat dan keinginan untuk hidup yang kuat mebuatnya mampu bertahan, sebelumnya akhirnya tertidur sambil terapung-apung. Atau mungkin lebih tepat dia pingsan.

Hari telah beranjak siang ketika tersadar. Rupanya dia terdampar di sebuah pulau kecil. Beberapa pohon kelapa tumbuh di pulai ini. Juga beberapa pohon dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Ada harapan untuk menyambung hidup.

Hari berganti hari. Bulan demi bulan pun berlalu, tak jua ada pertolongan datang. Tidak nampak kapal yang lewat, tidak juga pesawat terbang. Pakaian satu-satunya yang dikenakan sudah hancur, tidak jelas lagi bentuk dan rupanya. Rambutnya lebat panjang dan berantakan. Wajahnya bercambang, gelap dan sangar. Yusuf tidak putus asa. Dengan apa yang ada di pulau itu dia bangun sebuah gubuk kecil untuk berlindung dari terpaan panas pada siang hari, dan gigitan udara dingin pada malam hari. Gubuk yang sangat sederhana tetapi mampu melindungi dari terpaan angin malam. Tuhan, mudah-mudahan segera datang pertolongan, doanya.

Pagi itu Yusuf seperti biasa menyusuri pulau kecil itu untuk mencari buah-buahan. Buah apa saja, yang penting bisa untuk bertahan menyambung hidup. Nampaknya ini musim kemarau karena beberapa hari tidak pernah turun hujan, dan pepohonan nampak mulai mengering. Buah-buahan menjadi semakin sulit. Harapan terakhir adalah buah kelapa. Tiba-tiba terlihat asap tebal membubung tinggi dari arah guguknya. Oh tidak, hatinya cemas. Yusuf lari pulang secepatnya. Tidak peduli semak belukar menggores kulitnya yang kini telah semakin kasar. Dia terus berlari. Pandangannya ke atas, ke arah datangnya asap itu. Sambil berdoa, semoga Tuhan tidak membuatnya susah lagi kali ini.

Benar saja, rupanya gubuk yang telah susah payah dibuatnya kini habis terbakar. Matanya kini nanar. Pandangannya kabur. Air matanya tumpah. Terguguk. Meraung-raung. Berteriak-teriak. Pupus sudah kepercayaannya. Hei, Tuhan, Kamu sungguh tidak adil. Kamu sudah buat aku terdampar di pulau menyedihkan ini. Sekarang, gubuk satu-satunya yang aku buat dengan susah payah Kau buat terbakar. Sungguh Engkau tidak adil..huaaahuaahuaaaaaaa....
Buk..pingsan...

Ketika tersadar, Yusuf telah berada di sebuah pembaringan kapal besar milik tentara angkatan laut. Dia terbaring lemah. Sambil terheran-heran dipandangi sekelilingnya. Dirinya sendiri telah lebih bersih dan luka-luka yang masih terasa peris telah diobati dan diperban.

Ketika seorang kelasi datang mendekat membawakan makan untuknya, segera dia bertanya: “Pak, terakhir yang saya ingat, tadi saya sedang bersedih karena gubuk saya terbakar. Sekarang tiba-tiba sudah di kapal ini dengan kondisi yang begini. Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi Pak?”

“Iya Pak, tadi kami sedang berpatroli rutin. Tiba-tiba dari kejauhan kami melihat ada asap tinggi mengepul. Kapten memerintahkan kapal ini untuk mengarah ke asal asap. Ternyata di pulau kecil itu kami temukan Bapak sedang pingsan. Dokter sudah memeriksa kondisi kesehatan Bapak. Di samping luka-luka, Bapak juga kekurangan gizi. Tapi jangan kuatir Pak, kapal ini menyediakan semua keperluan Bapak.”

Yusuf tertegun. Dia masih ingat betul makiannya kepada Tuhan. Ternyata Tuhan memang adil dengan caranya sendiri. Dia kini menyesali kata-katanya.


*) Seperti diceritakan oleh Ibu Lanny Budiati, fasilitator training 7 Habits di Hotel Yasmin, Puncak, Cianjur.

Sabtu, 14 Februari 2009

Once upon a time in BCA







Pada suatu masa ada sebuah unit kerja bernama Pengikatan Kredit KPR di UBKK BCA. Di sana ada Sarmi, Joko, Vera, Funny, Inggit, Gatot, Heru, Riana, Herlang, dan Shirley. Mereka begitu kompak. Banyak masalah sulit sama-sama dihadapi. Seringkali mendapat kesenangan, sama-sama dirasakan. Singkat kata, asem manis dirasakan bersama.


Waktu pun berlalu. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan bumi terus berputar. Semua tidak ada yang abadi. Satu per satu mereka meninggalkan Pengikatan. Herlang, Inggit yang memulai. Lalu Sarmi. Terus Riana. Joko. Dan yang terakhir Shirley yang mengundurkan diri.


Tinggal sekarang Gatot, Vera, Funny dan Heru bersama dengan orang-orang yang menggantikan mereka yang telah pergi.


Biarlah yang indah menjadi kenangan. Yang pahit kita lupakan.


Minggu, 08 Februari 2009

Kwek Cheng si pemanah rajawali


Jaman dahulu kala di negeri Tiongkok, ada seorang lelaki muda yang kurus, dekil, dan miskin. Kwek Cheng namanya. Dia memang terlahir dari keluarga yang sangat miskin.

Ledekan dan penghinaan dari teman-teman sebayanya menjadi santapan sehari-hari Kwek Cheng. "Hei dengar kawan-kawan, kemarin aku mendengar Kwek Cheng ingin menjadi pemanah burung rajawali. Kalian dengar itu hei kawan..hahahaaa..." A Liong memang jelas-jelas bermaksud untuk mempermalukannya. Semua yang mendengar berita itu kontan tertawa terpingkal-pingkal. "Aku kasih tahu nih, Kwek Cheng memanah seekor gajah raksasa yang sedang tertidur dari jarak sedepa saja meleset. Jangankan memanah rajawali terbang, yang sedang hinggap di hadapannya saja mustahil kena. Itu mustahil." si gendut Cuan Kwok memprovokasi. Sesuatu yang teramat mustahil.

Ahai, benarkah mustahil?
Burung rajawali adalah burung yang istimewa. Rajanya burung. Makanya dinamakan rajawali. Burung yang luar biasa hebat. Dia mampu membaca tanda-tanda alam. Mampu mengalahkan badai. Manakala tanda-tanda badai datang, burung-burung lain akan mencari tempat persembunyian untuk menyelamatkan diri. Tapi tidak dengan rajawali. Dia akan terbang sangat tinggi hingga di atas badai. Dia mampu beradaptasi dengan oksigen yang sangat tipis. Benar-benar burung yang hebat. Jadi rasanya memang mustahil buat Kwek Cheng untuk memanahnya.
Tunggu dulu..
Rupanya Kwek Cheng bukan tipe manusia putus asa. Lihatlah dia terus berlatih. Pagi siang sore dia terus menerus belajar memanah. Tidak peduli lagi dengan olok-olok dan ejekan semua orang. Akhirnya justru orang-orang itu lelah dengan ejekan mereka.
Dia sadar, memanah bukan pekerjaan yang mudah. Ribuan kali gagal, ribuan kali juga dia terus mencoba. Perlahan-lahan akhirnya dia menjadi terbiasa. Tangannya menjadi semakin lentur. Bidikannya menjadi semakin terarah. Tarikan busurnya menjadi semakin kuat. Nalurinya pun kini lebih terasah. Dia sudah bisa memanah sebatang rumput kecil dari jarak teramat jauh. Lalu dia belajar memanah benda-benda yang hanyut di sungai. Memanah ikan, belalang, kadal, kelinci, burung-burung kecil. Dia sudah menjadi seorang jagoan. Dia semakin paham membedakan bidikan dan tarikan busur serta kapan saat yang paling tepat untuk melepaskannya untuk semua jenis binatang yang berbeda.
Lalu dia pun mulai berlatih memanah rajawali. Berulang-ulang dia coba. Sebanyak itu pula dia gagal. Berhari-hari Kwek Cheng terus mengamati cara terbang burung ini. Bagaimana dia bermanuver, menukik, lalu terbang sangat tinggi. Kesabarannya membuahkan hasil. Dia tahu betul semua kebiasaan rajawali. Suatu kali bidikan panahnya mengenai seekor rajawali. Jatuh.
Berita Kwek Cheng berhasil memang seekor rajawali cepat menyebar. Tapi banyak yang tidak percaya. Hingga ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan Kwek Cheng, semua tidak lagi memandangnya dengan sebelah mata.
Kwek Cheng menjadi hebat justru karena dia mampu mengalahkan dirinya sendiri untuk melayani cemoohan, olok-olok dan ejekan dengan tekad dan semangat untuk membuktikan bahwa mimpinya bisa menjadi kenyataan.

Kamus Dinda







Ini adalah kamus supaya kita ngerti kalo ngomong sama Dinda.

Kual = keluar.
Tambat = terlambat.
Takhil = terakhir.
Semua-mua = semuanya.
Yang dua? = yang satu lagi?
Bakang = belakang.
Mutan = selimutan.
Tanjang = telanjang.
Konin = kelonin.

Kiatan = kelihatan.



Contohnya:

Semalam si ade minta konin mama. Gara-gara boboknya gak mutan, dia jadi tambat bangun. Udah gitu lama di kamar mandi gak kual-kual. Semua-mua udah siap, dia sendiri belum. Cape deh.

Aisyah Estu Dhannoviandra Prameswara







Itu nama anak perempuanku.

Panjang banget ya...hehehe...
Gak apa-apa. Panggil aja Dinda.
Boleh juga panggil Ade Ntes.
Lho kok Ade Ntes? Kok Gak nyambung..


Gini lho ceritanya..


Estu, kakaknya, dari kecil suka kita panggil Pangeran. Dulu ada cerita tentang Pangeran Palasara. Nah, Estu adalah Pangeran Prameswara.


Nah, Dinda, tentu adalah si Putri. Tapi aku panggilnya Princess. Karena lidah anak kecil, maka princess jadilah plintes. Jadi Ade Plintes. Atau Ade Ntes... Nyambung kan...


Nama lengkap seperti di atas, panjang kan. Aisyah Estu Dhannoviandra Prameswara.


Estu dan Prameswara, artinya sama dengan di kakak.


Aisyah adalah istri Nabi Muhammad. Orang terdekat Rasulullah.


Dhannoviandra adalah sejarah kelahiran Dinda. Dhan berasalah dari kata Ramadhan. Hari di mana Dinda lahir adalah awal bulan Ramadhan 1422 Hijriyah. Bersamaan dengan bulan November.


Nah, sekarang ngerti kan arti nama Dinda yang puaaannjaannggg itu..hehehe..